Go-Pena Baner

Saturday, 12 September, 2026

Mahasiswa KKN-T II UNG Duwanga Wujudkan Pekarangan Produktif melalui Integrasi Budidaya Ikan dan Sayuran

Responsive image
Kegiatan KKN - Tematik II UNG di Desa Duwanga.

 

Gorontalo-Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tahap II melaksanakan program inti berupa optimalisasi pekarangan produktif melalui integrasi budidaya ikan dan sayuran berbasis akuaponik bagi masyarakat Desa Duwanga, Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo, Kamis (10/9/2026).

 

Program tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN-T II UNG dalam mendorong pemanfaatan lahan pekarangan yang belum produktif menjadi sumber pangan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui penerapan sistem akuaponik, budidaya ikan dan sayuran dilakukan secara terpadu dalam satu sistem dengan memanfaatkan lahan dan air secara lebih efisien.

 

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Mita Alvionita, mengatakan bahwa integrasi budidaya ikan dan sayuran melalui sistem akuaponik merupakan program inti yang dilaksanakan mahasiswa KKN-T II UNG di Desa Duwanga. Program tersebut dipilih dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan serta kebutuhan masyarakat terhadap inovasi budidaya yang sederhana, efisien, dan ramah lingkungan.

 

“Program ini menjadi salah satu program inti KKN-T II di Desa Duwanga. Kami melihat bahwa pemanfaatan pekarangan melalui sistem akuaponik dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk menghasilkan ikan dan sayuran secara bersamaan dengan memanfaatkan lahan yang tersedia,” ujar Mita.

 

Ia menjelaskan, akuaponik merupakan sistem budidaya terpadu yang menggabungkan pemeliharaan ikan dengan penanaman sayuran tanpa tanah dalam satu siklus air. Dalam sistem tersebut, kotoran ikan dan sisa pakan akan diuraikan oleh bakteri menjadi nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Selanjutnya, akar tanaman menyerap nutrisi tersebut sekaligus membantu menjaga kualitas air sebelum dialirkan kembali ke kolam ikan.

 

“Keunggulan akuaponik antara lain dapat menghemat penggunaan air karena air dialirkan secara berulang, menghasilkan ikan dan sayuran dalam satu sistem, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia. Selain itu, lahan dapat dimanfaatkan secara lebih efisien sehingga sistem ini sangat memungkinkan diterapkan di pekarangan rumah dengan lahan yang terbatas,” jelasnya.

 

Menurut Mita, penerapan sistem akuaponik juga relevan dengan kondisi lingkungan saat ini, terutama ketika sejumlah wilayah menghadapi musim kemarau yang cukup panjang. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi dalam pemanfaatan sumber daya air dan lahan agar kegiatan budidaya tetap dapat dilakukan secara produktif.

 

“Dalam kondisi musim kemarau seperti saat ini, diperlukan inovasi yang mampu mengoptimalkan penggunaan air dan lahan. Kehadiran UNG melalui program KKN-T diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi dengan memperkenalkan teknologi sederhana yang dapat diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat,” tambah Mita.

 

Ia menambahkan, keterlibatan perguruan tinggi melalui program KKN-T tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan pengabdian, tetapi juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan dan teknologi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan diharapkan dapat terus dikembangkan secara mandiri setelah program KKN-T berakhir.

 

Sementara itu, Kepala Desa Duwanga, Abdullah H. Parabuat, turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program inti KKN-T II UNG tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan langkah positif dalam mendorong masyarakat untuk kembali memanfaatkan lahan dan pekarangan rumah yang selama ini belum digunakan secara optimal.

 

Ia menilai, penerapan akuaponik memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas karena memungkinkan masyarakat memperoleh dua manfaat sekaligus, yaitu menghasilkan ikan dan sayuran dalam satu sistem budidaya. Selain itu, sistem tersebut dapat menjadi alternatif dalam memanfaatkan lahan yang terbatas sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.

 

Dalam penerapannya, masyarakat dapat membudidayakan berbagai jenis ikan, seperti ikan nila, yang dipadukan dengan tanaman sayuran seperti kangkung, selada, atau pakcoy. Integrasi tersebut menciptakan hubungan timbal balik dalam satu ekosistem, di mana limbah dari budidaya ikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman, sementara tanaman membantu menjaga kualitas air untuk mendukung pertumbuhan ikan.

 

Dukungan pemerintah desa terhadap program ini diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan inovasi setelah masa pelaksanaan KKN-T II UNG berakhir. Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu mengembangkan sistem akuaponik secara mandiri dan menerapkannya pada pekarangan rumah masing-masing.

 

Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-T II UNG Desa Duwanga berharap optimalisasi pekarangan produktif melalui integrasi budidaya ikan dan sayuran dapat terus dikembangkan dalam jangka panjang. Selain menghasilkan sumber pangan, program ini diharapkan mampu mendorong kemandirian masyarakat, meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemanfaatan lahan, serta membuka peluang pengembangan inovasi budidaya di tingkat rumah tangga.

 

Ke depan, program akuaponik diharapkan dapat menjadi salah satu contoh pemanfaatan pekarangan yang dapat diterapkan oleh masyarakat secara lebih luas. Kolaborasi antara UNG, pemerintah desa, mahasiswa, dan masyarakat diharapkan terus berkembang dalam menghadirkan solusi inovatif yang sesuai dengan kebutuhan serta kondisi lingkungan Desa Duwanga.


Share