Go-Pena Baner

Saturday, 12 September, 2026

Saat Warga Bertahan dengan Bitule, Gusnar Turun ke Pelosok Desa Huntu dan Langsung Berikan Bantuan Pangan

Responsive image
Gubernur Gusnar Ismail saat mengunjungi rumah warga Agus Meluko (60) dan istrinya Aisa Malipi (52), di Desa Huntu, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Jumat (11/9/2026). (Foto : Isam)

GORONTALO — Di sebuah rumah sederhana di kawasan perbukitan Desa Huntu, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, tangan Aisa Malipi (52) sibuk mengiris umbi yang bagi sebagian orang mungkin tidak pernah terbayangkan menjadi makanan sehari-hari.
Di hadapannya, bitule.
Umbi hutan yang tumbuh liar itu menjadi santapan utama Aisa bersama suaminya, Agus Meluko (60), selama beberapa pekan terakhir. Bukan karena mereka menyukainya, tetapi karena pilihan makanan semakin terbatas.
Kemarau yang berkepanjangan telah membuat kehidupan pasangan ini kian sulit. Kebun jagung dan rica yang menjadi sumber penghasilan gagal tanam. Penghasilan pun terhenti, sementara kebutuhan makan harus tetap dipenuhi.
Bitule akhirnya menjadi penyambung hidup.
Namun, bitule bukan sembarang umbi. Tanaman dengan nama ilmiah Dioscorea hispida itu dikenal mengandung asam sianida (HCN) yang dapat berbahaya jika dikonsumsi tanpa pengolahan yang tepat.
Umbi tersebut harus melalui proses pencucian, perendaman, pengeringan hingga pengolahan tertentu untuk mengurangi kandungan racunnya sebelum aman dikonsumsi.
Di tengah kondisi itulah kabar tentang warga yang terpaksa mengonsumsi bitule sampai ke telinga Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail.
Jumat (11/9/2026), Gusnar memilih datang sendiri ke Desa Huntu.
Bukan sekadar menghadiri acara penyerahan bantuan. Ia ingin melihat langsung kondisi warganya.
Sesampainya di kantor desa, Gubernur justru mendapati jajaran pemerintah kecamatan, perangkat desa, serta perwakilan masyarakat telah menyiapkan acara seremonial.
Gusnar menolaknya.
Ia memilih turun langsung ke lokasi tempat Agus dan Aisa tinggal. Jaraknya sekitar dua kilometer dari kantor desa, menuju kawasan perbukitan.
Keputusan itu akhirnya mempertemukan sang gubernur dengan kenyataan yang ingin dilihatnya sendiri.
Di tengah perjalanan, Gusnar menemukan Agus dan Aisa sedang mengiris bitule.
Tak ada panggung. Tak ada seremoni. Hanya sepasang suami istri dan umbi hutan yang menjadi makanan mereka di tengah musim paceklik.
Gusnar kemudian menyerahkan bantuan pangan kepada keluarga tersebut.
“Hari ini ti Pak Gubernur datang ke sini karena sudah tahu ada warga yang sudah makan bitule makanya harus dikasih beras. Bantuan ini dari Bapak Presiden Prabowo dan ada juga dari Gubernur,” ujar Gusnar dalam bahasa Gorontalo.
Bantuan tersebut berasal dari dua sumber.
Pertama, Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) yang dialokasikan pemerintah pusat melalui Bulog. Setiap keluarga penerima mendapatkan 30 kilogram beras.
Kedua, bantuan Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKPTPH), berupa lima kilogram beras, satu liter minyak goreng, 10 butir telur serta bantuan benih jagung.
Bagi keluarga Agus dan Aisa, bantuan itu bukan sekadar paket sembako.
Ada rasa lega setelah berminggu-minggu harus bertahan dengan hasil kebun yang gagal dan makanan seadanya.
Astin Meluko, putri Agus dan Aisa, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
Ia mengaku kedatangan Gubernur Gusnar bersama rombongan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi keluarganya, terlebih kedua orang tuanya kini tidak lagi memiliki penghasilan akibat gagal tanam jagung dan rica.
“Alhamdulillah terima kasih kepada gubernur telah memberikan bantuan kepada kami. Kami senang sekali,” kata Astin.
Kisah Agus dan Aisa menjadi gambaran kecil tentang bagaimana panjangnya musim kemarau dapat mengubah banyak hal.
Ketika air mulai sulit ditemukan, tanaman gagal tumbuh. Ketika hasil kebun tak lagi bisa dipanen, dapur keluarga ikut terdampak.
Dan ketika beras tak lagi tersedia, masyarakat mulai kembali mencari bahan pangan yang tumbuh di alam, bahkan yang memiliki risiko jika tidak diolah dengan benar.
Dari lereng bukit Desa Huntu, bitule akhirnya bukan lagi sekadar nama sebuah umbi.
Ia menjadi tanda bahwa musim paceklik telah benar-benar dirasakan oleh sebagian masyarakat Gorontalo.
Setelah memastikan bantuan pangan diterima keluarga yang membutuhkan, Gubernur Gusnar melanjutkan perjalanan.
Tujuannya Desa Bongohulawa, Kecamatan Bongomeme.
Di sana, persoalannya bukan lagi soal beras.
Air bersih menjadi kebutuhan yang mendesak.
Sebanyak 661 jiwa yang tersebar di empat dusun dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Dua lokasi berbeda, dua kebutuhan yang sama-sama mendasar.
Di Huntu, warga membutuhkan makanan.
Di Bongohulawa, warga membutuhkan air.
Keduanya menjadi potret nyata dampak kemarau yang berkepanjangan—dan menjadi pengingat bahwa di balik angka kekeringan, ada keluarga-keluarga yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan sehari-hari. (*)


Share