BONE BOLANGO – Tekanan teman sebaya, konflik pertemanan, hingga pengaruh negatif media sosial menjadi tantangan yang perlu dihadapi remaja. Menjawab persoalan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menyelenggarakan program pelatihan keterampilan sosial bagi remaja di Desa Talumopatu, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango.
Kegiatan bertajuk “Membangun Resiliensi Remaja Menghadapi Dampak Negatif Pergaulan melalui Pelatihan Keterampilan Sosial” ini dipimpin Prof. Dr. Maryam Rahim, M.Pd., bersama tim dosen dan mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) FIP UNG.
Program tersebut bertujuan membantu remaja mengembangkan resiliensi, yakni kemampuan untuk bertahan, bangkit, dan menyesuaikan diri secara positif ketika menghadapi tekanan atau kesulitan. Melalui pelatihan ini, remaja juga dibekali keterampilan berkomunikasi, menyelesaikan konflik, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Remaja Perlu Dibekali Keterampilan Menghadapi Tekanan Sosial
Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP UNG, Salim Krompot, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya pembinaan remaja yang tidak hanya berfokus pada pemahaman tentang perilaku negatif, tetapi juga pada pengembangan keterampilan untuk menghadapi berbagai situasi sosial.

Menurutnya, masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan karakter dan identitas diri. Pada masa ini, pengaruh teman sebaya dapat memberikan manfaat positif, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan ketika remaja belum mampu menentukan sikap secara mandiri.
“Remaja tidak cukup hanya diberi tahu tentang bahaya pergaulan negatif. Mereka juga perlu dibekali keterampilan untuk berani menolak ajakan yang merugikan, menyelesaikan konflik, dan mengambil keputusan yang tepat,” demikian pernyataan Salim.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan pengabdian menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menerapkan keilmuan Bimbingan dan Konseling secara langsung di masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kampus diharapkan dapat membantu pemerintah desa mengembangkan program pembinaan remaja sesuai kebutuhan lingkungan setempat.
Dukungan juga datang dari Kepala Desa Talumopatu, Norton Noe, S.IP., yang memandang pembinaan generasi muda sebagai bagian penting dari pembangunan masyarakat desa.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena pembinaan remaja merupakan tanggung jawab bersama. Kami berharap kerja sama dengan Universitas Negeri Gorontalo dapat terus berlanjut untuk mendukung perkembangan generasi muda di desa,”
Kolaborasi antara pemerintah desa dan perguruan tinggi diharapkan dapat memperluas kesempatan remaja memperoleh pendidikan keterampilan hidup yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar Berani Menolak Ajakan Negatif
Pelatihan ini dirancang dengan pendekatan yang sederhana dan interaktif. Selain memperoleh penjelasan mengenai dampak negatif pergaulan dan pentingnya resiliensi, peserta diajak memahami berbagai situasi yang sering muncul dalam hubungan pertemanan.
Tiga keterampilan utama menjadi fokus kegiatan, yaitu komunikasi asertif, pengelolaan konflik, dan pengambilan keputusan yang bijak.
Melalui latihan komunikasi asertif, remaja belajar menyampaikan pendapat dan menolak ajakan negatif secara tegas tanpa menyakiti orang lain. Dalam latihan pengelolaan konflik, peserta diajak memahami penyebab perselisihan dan mencari penyelesaian melalui komunikasi yang baik.
Sementara itu, latihan pengambilan keputusan membantu remaja mempertimbangkan risiko dan akibat sebelum mengikuti suatu ajakan. Contoh kasus yang digunakan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti ajakan membolos, tekanan kelompok, hingga perselisihan melalui media sosial.
Program ini juga dilengkapi evaluasi sebelum dan sesudah pelatihan menggunakan instrumen pengukuran resiliensi dan tes pengetahuan tentang pergaulan berisiko. Hasil evaluasi direncanakan menjadi dasar penyusunan rekomendasi pembinaan remaja selanjutnya.
Melalui kegiatan ini, tim BK FIP UNG berharap remaja Desa Talumopatu semakin mampu membangun hubungan pertemanan yang sehat, menghadapi tekanan sosial, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Kerja sama dengan Pemerintah Desa Talumopatu juga diharapkan dapat berkembang menjadi program pembinaan remaja yang berkelanjutan, sehingga manfaat pengabdian perguruan tinggi tidak berhenti pada satu kegiatan pelatihan. (*)