Go-Pena Baner

Saturday, 18 April, 2026

Riset Dosen UNG Ungkap Tantangan Baru Penilaian Kompetensi Penerjemah di Era AI

Responsive image
Ilustrasi AI

Gorontalo – Dua akademisi Universitas Negeri Gorontalo, Novriyanto Napu dan Usman Pakaya, menghadirkan kajian ilmiah terbaru yang mengulas secara kritis perkembangan model penilaian kompetensi penerjemahan (translation competence). Artikel mereka yang berjudul “From Foundational Frameworks to Future Frontiers: Critical Perspectives of Translation Competence Assessment Models and Emerging Challenges” terbit pada jurnal internasional bereputasi Current Issues in Language Planning yang terindeks Scopus Q1 pada tahun 2026.

Penelitian ini menyoroti bahwa kompetensi penerjemahan bukan sekadar kemampuan bahasa, melainkan gabungan kompleks antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional. Selama ini, penilaian kemampuan penerjemah cenderung berfokus pada hasil akhir terjemahan. Namun, studi ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tidak lagi cukup untuk menggambarkan kemampuan sebenarnya seorang penerjemah.

Melalui analisis terhadap berbagai publikasi ilmiah dalam satu dekade terakhir, peneliti menemukan adanya pergeseran signifikan dalam metode penilaian. Dunia pendidikan penerjemahan kini mulai beralih dari penilaian berbasis produk menuju pendekatan yang lebih komprehensif, yakni menggabungkan proses, refleksi, dan berbagai bukti kinerja. Metode seperti portofolio, penilaian diri, serta komentar reflektif menjadi semakin penting untuk menilai bagaimana seorang penerjemah berpikir dan mengambil keputusan.

Selain itu, penelitian ini juga menyoroti pengaruh besar teknologi, khususnya kehadiran neural machine translation (NMT) seperti Google Translate. Teknologi ini dinilai membawa tantangan baru dalam penilaian, karena hasil terjemahan tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan individu. Oleh karena itu, penilaian kini dituntut mampu membedakan antara kemampuan manusia dan bantuan mesin.

Di sisi lain, studi ini mengungkap sejumlah persoalan yang masih menjadi perdebatan, seperti bagaimana menyeimbangkan kerja kolaboratif dengan tanggung jawab individu, serta kesenjangan antara kebutuhan industri dengan materi pembelajaran di kampus. Peneliti juga menemukan bahwa meskipun metode penilaian sudah semakin beragam, implementasinya di berbagai institusi pendidikan masih belum merata.

Sebagai kontribusi ilmiah, Napu dan Pakaya menawarkan kerangka konseptual baru untuk membantu pengembangan sistem penilaian yang lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan masa depan. Mereka menekankan pentingnya pendekatan yang tidak hanya menilai hasil, tetapi juga proses, penggunaan teknologi, serta kemampuan reflektif mahasiswa.

Temuan ini menjadi penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan tuntutan industri global, yang mengharuskan lulusan penerjemahan tidak hanya mahir secara linguistik, tetapi juga adaptif, kritis, dan profesional.

Dengan publikasi di jurnal bereputasi tinggi, riset ini sekaligus memperkuat kontribusi akademisi Indonesia, khususnya Universitas Negeri Gorontalo, dalam pengembangan ilmu linguistik terapan di tingkat internasional. (*) 


Share