Go-Pena Baner

Thursday, 17 September, 2026

Kemarau Panjang, Surplus Beras dan Bitule

Responsive image
Muh. Amier Arham

Oleh : Muh. Amier Arham

*Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG*

 

Musim kemarau tahun ini cukup panjang, kekeringan melanda seluruh wilayah. Sungai-sungai besar di wilayah Kalimantan dan Sumatera mengering, sungai disana bukan sekedar sumber pengairan tapi ia berfungsi sebagai urat nadi transportasi dari hilir ke hulu, dan sebaliknya. Pada saat yang sama sungai menjadi jalur utama pengangkutan batu bara dan hasil hutan, komoditi ini menjadi salah satu penyumbang ekonomi ekstraktif di Indonesia. Jika kemarau masih berkepanjangan, tidak hanya sungai yang kering, tetapi kekeringan mengakibatkan tanah meranggas, kehilangan kelembaban, retak dan mengeras pada akhirnya organisme yang ada dalam tanah mati. Tanaman tidak dapat tumbuh, apalagi tanaman pangan, kondisi ini akan mengancam cadangan pangan nasional.

Kendati musim kekeringan masih berlangsung, sampai hari ini belum ditemukan daerah yang kekurangan pangan, tetapi daerah yang rentan atau wilayah kerawanan pangan terdapat di beberapa provinsi di Indonesia. Daerah waspada kerawanan pangan terdeteksi di Jawa Tengah, Yogyakarta, NTB dan NTT, sedangkan kekurangan cadangan melingkupi Maluku dan Papua. Kerawanan dan kekurangan cadangan terjadi karena daerah-daerah tersebut belum memiliki cadangan pangan pemerintah daerah secara memadai. Sementara Provinsi Gorontalo tidak termasuk, walaupun terdapat pemberitaan di media ditemukan warga Gorontalo mengkonsumsi –Bitule--, padahal dari proyeksi neraca pangan Gorontalo  justru mencapai surplus beras.

Kerawanan dan kekurangan cadangan pangan sejatinya tidak perlu terjadi kendati Indonesia dilanda el-nino berkepanjangan. Alasannya, produksi beras nasional pada tahun 2026 diproyeksikan mengalami surplus sekitar 3,67 juta ton, dari total stok beras yang tersedia menandakan kita berada dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan konsumsi hingga 10 bulan ke depan. Tentu ini menjadi tantangan, sebab antara data stok pangan (beras) surplus dan diwaktu yang sama terdapat daerah rawan pangan. Capaian surplus beras tidak serta merta pula harga beras menjadi murah, di sejumlah daerah terpencil atau pada tingkat konsumen masih tinggi harganya. Salah satu tantangannya adalah distribusi (logistik) dan tata niaganyater dapat  masalah yang memerlukan perbaikan. Ini diperkuat dari rencana pemerintah akan melelang 380 ribu ton beras cadangan Bulog yang mengalami penurunan mutu. Beras ini telah disimpan selama lebih dari 10 bulan, hingga setahun.

Program ketahan dan kemandirian pangan merupakan salah satu program prioritas pemerintah saat ini, untuk mencapai target tersebut dua langkah besar dijalankan pemerintah; 1) Pembukaan lahan baru untuk kawasan pangan nasional (food estate) di Merauke, 2) Pelibatan secara langsung TNI-Polri dalam pembangunan sektor pertanian, bahkan di lingkungan TNI dibentuk gugus tugas kedaulatan pangan.

Di tingkat daerah, setiap Pemda diminta mengembangkan pangan lokal di mulai dari bahan pangan sumber karbohidrat pengganti beras. Upaya itu diyakini dapat menjadi salah satu solusi tingginya harga beras dan kemungkinan terjadi kerawanan serta kekurangan cadangan pangan bila terjadi el-nino berkepanjangan. Oleh karena itu informasi ditemukannya warga di Gorontalo mengkonsumsi Bitule tidak boleh dipandang sebagai kerawanan pangan, apalagi di identikkan ketidakmampuan pemerintah memberikan makan kepada rakyatnya. Bitule (Dioscorea Hispida) dahulunya merupakan cadangan makanan saat terjadi paceklik akibat kemarau panjang, ia merupakan makanan tambahan bagi warga desa, selingan selain nasi dan lauk. Bitule sangat mudah ditemukan pada areal hutan, biasanya tumbuh di sekitar pohon besar.

Bitule merupakan ubi hutan, di Aceh dikenal namanya Janeng, Gadung di Jawa dan Sunda. Bitule memang memiliki zat kimia mengandung racun karena di dalamnya ditemukan asam sianida, kendati mengandung racun namun bahan makanan ini terdapat khasiat yang dapat mengobati penyakit tertentu. Ia rendah karbohidrat dan lemak, sehingga manjur mencegah dan mengobati penyakit gula, sekalipun ini tentunya perlu pembuktian secara ilmiah lewat pengujian di laboratorium oleh farmakologis.

Pada konteks lain, Bitule mestinya ditempatkan sebagai bagian dari pangan alternatif di daerah, di Aceh Umbi Janeng diolah menjadi kripik dan stik. Terdapat pula olahan dalam bentuk lain menjadi tepung untuk membuat kue tradsional, juga dapat dikeringkan lalu direbus sampai matang lalu di campur dengan kelapa parut. Masyarakat di Jawa mengolah Umbi Gadung menjadi beberapa produk makanan, seperti kripik gadung, tepung gadung, olahan kue dan gaplek sebagai cadangan makanan atau pengganti beras.

Pada konteks itu, Bitule penting diperlakukan sebagai bagian dari local wisdom, perlu dikembangkan agar masyarakat tidak bergantung pada satu komoditas utama, seperti beras dan terigu. Sekaligus ia menjadi pilihan bahan pangan pengganti yang bersumber dari kekayaan daerah, namun tidak hanya berhenti sampai disitu, umbi Bitule perlu dikembangkan menjadi komoditi karena pada dasarnya mudah tumbuh agar menciptakan nilai ekonomi, dan diolah untuk melahirkan nilai tambah. Sekaligus melestarikan kearifan lokal serta memperkuat identitas budaya melalui kekayaan kuliner nusantara. (*)


Share