GORONTALO – Pembinaan Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kota Gorontalo diarahkan menuju pola kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Langkah ini bertujuan mengakhiri pola pembinaan sektoral agar dukungan terhadap pelaku usaha lebih terintegrasi, terarah, dan berkelanjutan.
Gagasan tersebut diinisiasi Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perdagin) Kota Gorontalo, Haryono Suronoto, melalui program perubahan bertajuk Kota Gorontalo IKM Cluster.
Haryono menjelaskan, selama ini setiap instansi cenderung menjalankan program pembinaan berdasarkan agenda dan kelompok sasaran masing-masing. Kondisi tersebut menyebabkan kegiatan antarlembaga belum sepenuhnya terkoordinasi dalam mendukung pengembangan pelaku IKM.
“Akibatnya, belum terbentuk pola koordinasi yang terintegrasi dalam mendukung pengembangan pelaku IKM,” ungkap Haryono saat diwawancarai awak media.
Ia mencontohkan, Dinas Tenaga Kerja dapat menyelenggarakan pelatihan bagi kelompok peserta tertentu, sementara Dinas Perdagangan dan Perindustrian menggelar kegiatan serupa dengan kelompok sasaran yang berbeda.
“Selama ini sifatnya masih sektoral, belum berkolaborasi,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Haryono menawarkan pendekatan kolaboratif melalui Model 5S, yakni Shared Data (data bersama), Shared Target (target bersama), Shared Plan (perencanaan bersama), Shared Action (aksi bersama), dan Shared Outcome (hasil bersama).
Menurutnya, kelima prinsip tersebut dirancang sebagai fondasi kerja bersama agar seluruh instansi terkait memiliki arah, sasaran, dan langkah yang selaras dalam melakukan pembinaan IKM.
Penerapannya dimulai dengan menyatukan basis data lintas sektor. Melalui data yang sama, setiap OPD diharapkan memiliki pemahaman yang seragam mengenai kondisi, potensi, serta kebutuhan pelaku IKM yang menjadi sasaran pembinaan.
“Kesamaan data itu kemudian menjadi dasar dalam menentukan target dan menyusun perencanaan bersama,” jelas Haryono.
Dengan pendekatan ini, setiap OPD tidak lagi hanya berorientasi pada pencapaian target program masing-masing, tetapi juga berkontribusi terhadap sasaran pengembangan IKM secara kolektif.
“Jadi, mulai dari data, kita lintas sektor atau OPD punya data yang sama. Begitu juga target, kita akan lebih berfokus pada target bersama,” katanya.
Ia menegaskan, setiap instansi tetap menjalankan tugas dan kewenangannya masing-masing. Namun, program dan kegiatan yang dilaksanakan perlu diarahkan untuk mendukung tujuan bersama.
“Tidak lagi Dinas Kesehatan punya target sendiri, Disnaker punya target sendiri, dan Dinas Perdagangan punya target sendiri,” lanjutnya.
Kolaborasi tersebut juga akan diterapkan dalam penyusunan rencana kegiatan, pelaksanaan program, hingga pengukuran hasil. Dengan demikian, dukungan kepada pelaku IKM diharapkan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi sesuai kebutuhan usaha.
Melalui model ini, seorang pelaku IKM berpeluang memperoleh beragam bentuk dukungan dari sejumlah instansi secara lebih terkoordinasi. Intervensi dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari peningkatan keterampilan, pengembangan usaha, hingga dukungan lain sesuai tugas dan kewenangan masing-masing OPD.
Program Kota Gorontalo IKM Cluster merupakan gagasan perubahan yang disiapkan Haryono untuk membangun model tata kelola kolaboratif dalam pengembangan industri di Kota Gorontalo.
Ia berharap, Model 5S dapat menjadi landasan kerja bersama bagi seluruh pemangku kepentingan sehingga pembinaan IKM ke depan menjadi lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.
“Intinya, kita berangkat dari data yang sama, kemudian target yang sama. Itu berarti satu IKM bisa mendapatkan berbagai intervensi dari berbagai pihak melalui kolaborasi,” pungkasnya. (*)