Gorontalo (Go—Pena.id) - Hamparan tanah dan rerumputan hijau kini terlihat di sejumlah bagian Danau Limboto, Kabupaten Gorontalo. Area yang sebelumnya menjadi perairan perlahan berubah menjadi daratan seiring menyusutnya permukaan danau.
Di Jalan Kawasan Danau Limboto, Kelurahan Hutuo, Kecamatan Limboto, kondisi tersebut terlihat jelas, Rabu (23/9/2026). Sebagian kawasan yang telah mengering bahkan mulai dimanfaatkan warga untuk berbagai aktivitas.
Ada yang menjadikannya ruang terbuka untuk beraktivitas, sementara sebagian lainnya memanfaatkannya sebagai lokasi wisata menikmati pemandangan.
Namun, di balik munculnya ruang baru tersebut, terdapat persoalan ekologis yang tidak terlihat secara langsung.
Ketika air danau menyusut, ruang hidup bagi ikan yang menggantungkan kehidupannya pada ekosistem Danau Limboto juga ikut berkurang.
Salah satu yang terdampak adalah ikan endemik yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar danau, seperti Ikan manggabai serta ikan payangga atau huluu.
Saleh (52), nelayan sekaligus pedagang ikan di kawasan Danau Limboto, mengatakan kondisi ikan di danau saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
Untuk menangkap ikan manggabai, Saleh masih menggunakan alat tradisional yang disebut bunggo. Alat tersebut terbuat dari bambu yang telah dimodifikasi dan ditempatkan di dalam perairan. Ikan kemudian masuk ke dalam perangkap tersebut.
Namun, mendapatkan manggabai kini tidak semudah sebelumnya.
Menurut Saleh, ikan manggabai semakin sulit ditemukan dan jumlah tangkapan yang diperoleh nelayan tidak banyak.
Kondisi itu ikut memengaruhi harga jual. Saat ini, harga ikan manggabai dapat mencapai sekitar Rp100 ribu per kilogram.
Harga tersebut, kata dia, berkaitan dengan semakin sulitnya mendapatkan ikan tersebut.
"Kalau ada, jumlahnya sedikit," demikian gambaran Saleh mengenai kondisi tangkapan manggabai saat ini.
Kondisi lebih memprihatinkan terjadi pada ikan payangga atau huluu, Saleh menyebut ikan tersebut kini sudah sangat jarang ditemukan di Danau Limboto. Kalaupun ditemukan, jumlahnya sangat sedikit, bahkan hanya satu atau dua ekor.
Kondisi itu, menurutnya, telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
"Yang dijual di pasar biasanya dikirim dari Tondano, Sulawesi Utara," ujar Saleh mengenai ikan huluu yang kini semakin sulit diperoleh dari Danau Limboto.
Menyusutnya Danau Limboto tidak semata-mata dapat dilihat sebagai persoalan musim kemarau.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena Danau Limboto memang telah mengalami penyusutan dalam jangka panjang.
Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang dipublikasikan melalui laman resminya mencatat, dalam kurun waktu 74 tahun, dari 1932 hingga 2006, luas Danau Limboto menyusut dari sekitar 7.000 hektare menjadi 3.000 hektare.
Pada periode tersebut, kedalaman rata-rata danau tercatat sekitar 2,5 meter.
Data yang sama menyebut tingkat penyusutan luas danau mencapai sekitar 88,81 hektare per tahun. Jika kondisi tersebut tidak ditangani, Danau Limboto diperkirakan menghadapi ancaman kehilangan danau dalam beberapa dekade mendatang.
Artinya, persoalan yang terlihat hari ini bukan hanya tentang sebagian wilayah danau yang mengering saat musim kemarau.
Ada persoalan yang lebih panjang, bagaimana mempertahankan ekosistem danau agar tetap mampu menyediakan ruang hidup bagi berbagai jenis ikan dan organisme yang bergantung padanya.
Bagi nelayan seperti Saleh, perubahan ekosistem Danau Limboto bukan persoalan yang biasa
Perubahan tersebut dirasakan langsung melalui hasil tangkapan.
Selain penyusutan perairan, Saleh juga menyoroti aktivitas penangkapan ikan yang dinilai merusak ekosistem, seperti penyetruman ikan dan penggunaan pukat harimau.
Aktivitas tersebut, menurut dia, turut memperburuk kondisi sumber daya ikan di Danau Limboto.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ikan endemik, tetapi juga nelayan yang menggantungkan penghasilan dari hasil tangkapan danau.
Ketika ikan semakin sulit ditemukan, nelayan harus mencari jenis ikan lain untuk dijual.
Saat ini, selain manggabai, Saleh juga menjual sejumlah jenis ikan lain, di antaranya ikan gabus, nila dan hundala.
Pantauan di Jalan Kawasan Danau Limboto, Kelurahan Hutuo, menunjukkan terdapat sekitar 10 lapak pedagang ikan di sepanjang kawasan tersebut.
Sebagian besar pedagang menjual jenis ikan yang relatif sama.
Pemandangan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana aktivitas ekonomi masyarakat masih berkaitan erat dengan keberadaan sumber daya perairan Danau Limboto.
Namun, apabila jenis ikan tertentu semakin sulit ditemukan, kondisi tersebut pada akhirnya juga dapat memengaruhi mata pencaharian masyarakat yang berada di sekitar danau.
Di satu sisi, menyusutnya air membuka ruang baru yang kemudian dimanfaatkan warga.
Di sisi lain, ruang yang sama merupakan bagian dari ekosistem yang sebelumnya menjadi habitat ikan.
Di sinilah persoalan Danau Limboto menjadi lebih kompleks. Daratan yang terlihat kosong bukan berarti tidak memiliki nilai ekologis.
Menyusutnya Danau Limboto pada akhirnya bukan hanya tentang berkurangnya luasan air.
Ada habitat yang ikut hilang, ada ikan yang semakin sulit ditemukan, dan ada mata pencaharian masyarakat yang perlahan menghadapi perubahan. (Fikri)