(Dibahas pada dikusi pagi RRI Gorontalo, Senin 12 Januari 2026)
Oleh
Lukman A. R. Laliyo
(Direktur Pusat Studi Lingkungan Pembelajaran dan STEM UNG)
Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2025 memberi kita kesempatan untuk bercermin tanpa perlu saling menyalahkan. Dari sisi partisipasi, Gorontalo patut diapresiasi karena keterlibatan siswa dan sekolah tergolong tinggi. Namun cermin yang sama juga menunjukkan “pekerjaan rumah (PR)” yang besar, dimana mata pelajaran wajib, rerata Gorontalo tercatat untuk Bahasa Indonesia : 50,11, Matematika : 33,14, dan Bahasa Inggris : 20,87, dengan rerata keseluruhan : 34,71.
Jika polanya dibaca, pesannya sebenarnya jelas. Gorontalo relatif lebih baik pada Bahasa Indonesia, tetapi tertinggal pada Matematika dan terutama Bahasa Inggris. Jaraknya juga terlihat ketika dibandingkan dengan provinsi teratas. DI Yogyakarta mencatat rerata: 46,33 (Bahasa Indonesia: 65,89, Matematika: 43,09, Bahasa Inggris: 30,00), sehingga ada selisih sekitar: 11,62 poin dengan Gorontalo. Ini bukan semata angka, tetapi tanda bahwa banyak siswa masih kesulitan bernalar dengan data dan angka, sementara paparan Bahasa Inggris juga belum cukup untuk membantu mereka memahami informasi akademik. Dengan kata lain, kita sudah kuat memastikan bahwa sekolah kita selalu “ikut program”, akan tetapi belum cukup mampu dalam memastikan hadirnya latihan ketrampilan berpikir/bernalar epsitemologis dalam pembelajaran di kelas.
Di sisi yang berbeda, Kemendikdasmen mengingatkan bahwa hasil TKA ini bukan instrumen untuk memberi cap pada anak: “mampu atau tidak mampu”, melainkan peta untuk memperbaiki pembelajaran. Jadi pertanyaan yang perlu kita jawab bukan “siapa yang salah?”, melainkan “apa yang harus dibenahi agar kehadiran tinggi berbuah prestasi?”
Di titik ini, penting mengingat satu gagasan sederhana dari dunia pendidikan termasuk literasi sains. Sejumlah ahli seperti Roberts dan Bybee (2014), membedakan dua cara besar memahami “literasi (melek) sains”. Cara pertama (sering terjadi di sekolah), literasi yang menekankan pada pentingnya penguasaan materi (content) dan cara kerja sains, sebagaimana dipahami masyarakat/komunitas ilmiah.
Cara kedua lebih menantang: siswa belajar menggunakan sains untuk memahami dan menyelesaikan persoalan nyata yang rumit di masyarakat, yaitu persoalan yang tidak punya jawaban tunggal, dan perlu pertimbangan data, nilai, serta dampak sosial. Banyak penelitian menunjukkan bahwa cara kedua ini, sering belum hadir kuat dalam pengalaman belajar siswa, padahal justru di sanalah kemampuan bernalar, membaca data, dan mengambil keputusan bertumbuh. Kalau pembelajaran kita terlalu lama berhenti pada “hafal konsep”, Matematika dan Bahasa Inggris mudah terasa jauh dari kehidupan, lalu hasilnya ikut tertinggal.
Karena itu, PR setelah TKA 2025 sebaiknya tidak hanya berbentuk program tambahan, tetapi pergeseran cara mengajar ke pembelajaran yang lebih kontekstual yang adaptif dengan lingkungan siswa. Dengan demikian, siswa bukan hanya tahu, tetapi paham konteks, punya keterampilan menganalisis masalah, menguasai pengetahuan yang relevan, dan punya sikap serta niat bertindak menghadirkan solusi kreatif.
Terkait hal di atas, kita bisa meminjam kerangka yang dikembangkan NAAEE: North American Association for Environmental Education (Asosiasi Pendidikan Lingkungan Amerika Utara), yang merangkum empat hal itu secara sederhana: paham konteks masalah, mampu menganalisis dan menilai solusi, punya pengetahuan dasar yang memadai, dan punya kepedulian serta rasa tanggung jawab. Cara paling realistis untuk membawa ini ke kelas adalah lewat pembelajaran berbasis isu sosial-ilmiah: perubahan iklim, polusi, sampah, energi, sampai pengelolaan sumber daya alam—yang di Gorontalo sangat mudah dihubungkan dengan isu lingkungan sekitar dan pengelolaan sumber daya perairan.
Di sisi inilah Matematika dan Bahasa Inggris bisa “naik kelas”: Matematika dipakai untuk membaca grafik, menghitung tren, membandingkan data; Bahasa Inggris dipakai untuk mengakses informasi, artikel pendek, dan istilah penting yang sering menjadi rujukan dunia. Jika sekolah, guru, dan dinas berani menggeser fokus ke latihan bernalar berbasis masalah nyata—ditopang bahan ajar, pendampingan guru, dan target perbaikan yang terukur—maka partisipasi tinggi yang sudah kita miliki dapat benar-benar berubah menjadi prestasi yang dirasakan di ruang kelas, bukan hanya dibaca di lembar hasil. (*)