Oleh
Joni Apriyanto
Pengantar
Kajian sejarah kontemporer semakin memberi perhatian pada sumber-sumber non-arsival, seperti tradisi lisan, mitos, dan cerita rakyat, sebagai bagian dari upaya memperluas cakupan historiografi. Buku 'Cerita Rakyat dan Mitos: Wisata Budaya dalam Kehidupan Masyarakat' karya Karmin Baruadi dan Sunarty Suly Eraku hadir dalam konteks tersebut, dengan menawarkan pembacaan terhadap cerita rakyat dan mitos sebagai bagian integral dari kehidupan sosial-budaya masyarakat, sekaligus sebagai potensi wisata budaya.
Buku ini penting tidak hanya bagi kajian folklor dan pendidikan budaya, tetapi juga bagi sejarah budaya dan historiografi lokal, terutama dalam merekam memori kolektif masyarakat yang selama ini kerap terpinggirkan dalam narasi sejarah formal.
Isi dan Argumen Utama Buku
Secara umum, buku ini mengangkat berbagai cerita rakyat dan mitos yang hidup dalam masyarakat lokal, yang diposisikan sebagai warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage). Penulis menekankan bahwa cerita-cerita tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan atau tradisi tutur, melainkan sebagai medium transmisi nilai, norma, dan identitas kolektif.
Dalam perspektif sejarah, narasi-narasi yang disajikan dapat dipahami sebagai bentuk ingatan sosial (social memory) yang merekam pengalaman historis masyarakat secara simbolik. Mitos tentang asal-usul, tokoh-tokoh sakral, dan ruang-ruang keramat merefleksikan cara masyarakat menafsirkan masa lalu, relasi dengan alam, serta struktur kekuasaan yang pernah atau masih berlangsung.
Keunikan buku ini terletak pada upayanya mengaitkan cerita rakyat dan mitos dengan pengembangan wisata budaya. Situs-situs yang dilekatkan pada narasi mitologis—seperti makam tokoh legendaris atau lanskap tertentu—dipahami sebagai ruang budaya yang hidup dan terus direproduksi maknanya dalam konteks kekinian.
Analisis dari Perspektif Sejarah
Dari sudut pandang sejarah, buku ini dapat dibaca sebagai upaya dokumentasi sumber sejarah lisan, yang memiliki posisi penting dalam penulisan sejarah lokal. Cerita rakyat dan mitos yang dihimpun merepresentasikan sejarah dari sudut pandang masyarakat, bukan dari negara atau kekuasaan kolonial. Dalam hal ini, karya ini sejalan dengan pendekatan history from below dan sejarah budaya.
Meskipun tidak disusun berdasarkan periodisasi kronologis, narasi-narasi dalam buku ini menyimpan jejak-jejak historis yang dapat ditelusuri lebih lanjut, seperti legitimasi otoritas adat, hubungan antara elite lokal dan masyarakat, serta bentuk adaptasi budaya terhadap perubahan sosial. Dengan demikian, mitos tidak hadir sebagai “cerita irasional”, melainkan sebagai representasi simbolik dari realitas historis.
Namun demikian, dari perspektif sejarah akademik, pembacaan historis terhadap cerita rakyat dalam buku ini masih bersifat implisit. Integrasi antara tradisi lisan dengan sumber tertulis—seperti arsip kolonial, laporan etnografis, atau catatan administratif—belum menjadi fokus utama, sehingga peluang analisis historis yang lebih mendalam masih terbuka.
Kontribusi dan Signifikasi
Kontribusi utama buku ini terletak pada penguatan historiografi lokal dan kesadaran akan pentingnya warisan budaya tak benda. Dalam konteks Indonesia Timur dan Gorontalo khususnya, karya ini membantu mengisi kekosongan dokumentasi budaya lokal yang selama ini lebih banyak diwariskan secara lisan.
Selain itu, buku ini juga relevan dengan wacana dekolonisasi pengetahuan, karena menempatkan pengalaman dan narasi masyarakat lokal sebagai sumber utama pemaknaan masa lalu. Dengan mengaitkan cerita rakyat dengan wisata budaya, penulis menunjukkan bagaimana sejarah dan memori kolektif terus dinegosiasikan dalam ruang ekonomi dan budaya kontemporer.
Catatan Kritis
Sebagai resensi akademik, beberapa catatan kritis dapat diajukan. Pertama, buku ini akan lebih kuat secara historis apabila cerita rakyat yang disajikan dikontekstualisasikan dalam kerangka temporal yang lebih jelas (pra-kolonial, kolonial, atau pascakolonial). Kedua, analisis mengenai relasi kuasa—baik antara masyarakat lokal dan negara, maupun antara tradisi lokal dan modernitas—masih dapat diperdalam.
Selain itu, keterkaitan antara mitos dan potensi wisata budaya juga perlu dibaca secara kritis, mengingat proses komodifikasi budaya berpotensi menyederhanakan makna historis dan simbolik cerita rakyat.
Penutup
Secara keseluruhan, 'Cerita Rakyat dan Mitos: Wisata Budaya dalam Kehidupan Masyarakat' merupakan karya yang bernilai penting bagi kajian sejarah budaya dan historiografi lokal. Buku ini menegaskan bahwa masa lalu tidak hanya hidup dalam arsip tertulis, tetapi juga dalam cerita, mitos, dan ingatan kolektif masyarakat. Bagi sejarawan, buku ini dapat dibaca sebagai pintu masuk untuk menggali sejarah lokal melalui sumber-sumber non-konvensional yang kaya makna. (*)
Gorontalo, 28 Januari 2026.