Lukman A. R. Laliyo
(Ditulis dari perspektif Promotor pada Ujian Terbuka Doktor Pendidikan IPA Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo)
DANAU Limboto bukan sekadar panorama ekologis. Ia adalah ruang hidup: habitat ikan, flora dan fauna, dan sumber penghidupan warga. Tetapi kita juga tahu, danau ini memikul beban berat: sedimentasi, pencemaran, dan berbagai aktivitas manusia yang pelan-pelan menggerus daya dukungnya. Masalahnya, persoalan lingkungan seperti ini sering kita bahas berulang-ulang di seminar dan ruang kelas, namun dampaknya belum selalu terasa bagi masyarakat. Pertanyaannya sederhana: bagaimana pendidikan tinggi bisa lebih “nyambung” dengan kebutuhan warga?
Saya ingin berbagi satu pelajaran penting dari sebuah karya ilmiah yang lahir di Universitas Negeri Gorontalo: disertasi doktor Pendidikan IPA atas nama Julhim S. Tangio, yang mengembangkan model pembelajaran Field-Based Environmental Problems (FBEP). Istilahnya boleh terdengar akademik, tetapi gagasannya sangat membumi: mahasiswa belajar sains dengan menghadapi masalah lingkungan nyata di lapangan—bukan hanya lewat buku, slide, dan hafalan konsep.
Mengapa cara belajar kita perlu diubah?
Selama ini, pembelajaran kimia lingkungan (dan banyak mata kuliah sains lainnya) sering berjalan “rapi” di atas kertas, tetapi jauh dari realitas. Mahasiswa bisa mengulang definisi, mengerjakan soal, bahkan menghafal prosedur praktikum. Namun ketika dihadapkan pada isu yang hidup di masyarakat—misalnya kualitas air yang berubah, bau, endapan, atau dampak limbah—mereka belum tentu siap menyusun argumen ilmiah, membaca data, lalu mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Padahal, di zaman ini, warga setiap hari dibombardir informasi: ada yang benar, ada yang menyesatkan. Maka kemampuan yang paling dibutuhkan bukan sekadar “tahu,” tetapi mampu menalar: membedakan opini dan bukti, menilai data, dan menjelaskan alasan secara masuk akal. Inilah yang disebut keterampilan penalaran sosial-ilmiah—kemampuan menggunakan ilmu untuk memahami masalah sosial-lingkungan dan merumuskan pilihan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Apa Itu FBEP, dan mengapa relevan untuk Gorontalo?
FBEP pada dasarnya mengubah alur belajar menjadi mirip kerja ilmiah yang sesungguhnya.
Mahasiswa tidak hanya duduk mendengar, tetapi turun ke lapangan: mengamati kondisi lingkungan, berdialog dengan masyarakat, mengumpulkan informasi, mengambil sampel, lalu menguji di laboratorium. Setelah itu, mereka tidak berhenti pada angka-angka, tetapi diajak membahas maknanya: apa yang bisa disimpulkan, apa yang masih belum pasti, apa implikasinya bagi warga dan kebijakan, dan tindakan apa yang paling realistis.
Dengan memilih Danau Limboto sebagai konteks, pembelajaran menjadi dekat dan relevan. Mahasiswa tidak belajar “kasus jauh” yang asing, tetapi belajar dari ruang yang mereka lihat dan rasakan sendiri. Inilah kekuatan besar: ketika ilmu bertemu konteks, motivasi belajar naik, dan kepekaan sosial terbentuk.
Apa manfaat nyatanya untuk masyarakat?
Yang menarik, model ini tidak hanya “enak untuk kampus,” tetapi berpotensi memberi manfaat langsung bagi warga.
Pertama, FBEP melatih mahasiswa menghasilkan informasi berbasis bukti. Artinya, diskusi tentang kondisi danau tidak lagi semata dugaan atau perasaan, tetapi bisa ditopang oleh pengamatan, data lapangan, dan hasil uji. Ini penting untuk membangun budaya publik yang lebih rasional dan sehat.
Kedua, pembelajaran seperti ini membentuk calon guru dan calon ilmuwan yang lebih siap menghadapi masalah nyata. Gorontalo membutuhkan pendidik yang bukan hanya menguasai materi, tetapi mampu membimbing generasi muda berpikir kritis terhadap isu lingkungan di daerahnya sendiri.
Ketiga, bila dikelola serius, kegiatan pembelajaran lapangan dapat menjadi embrio kolaborasi kampus–masyarakat–pemerintah daerah. Kampus bisa menjadi mitra yang menyumbang data, analisis, dan rekomendasi berbasis pendidikan; masyarakat menyumbang pengalaman dan pengetahuan lokal; pemerintah daerah menjadi pengambil kebijakan yang memperkuat tindak lanjut.
Catatan penting: Model baik butuh dukungan
Tentu ada tantangan. Pembelajaran berbasis lapangan membutuhkan waktu lebih panjang, logistik yang tertata, serta manajemen kelas yang baik—terutama jika jumlah mahasiswa besar. Karena itu, keberhasilan FBEP tidak bisa ditumpukan pada dosen dan mahasiswa saja. Ia perlu dukungan institusi: jadwal yang lebih lentur, fasilitas, akses lokasi, jejaring dengan komunitas, dan kemitraan dengan instansi terkait.
Namun justru di sinilah pesannya: jika kita ingin pendidikan tinggi memberi dampak nyata, maka ekosistem pendukungnya harus dibangun bersama.
Penutup: Sains yang membumi, pendidikan yang menggerakkan
Karya Julhim S. Tangio mengingatkan kita pada satu hal mendasar: pendidikan sains seharusnya tidak berhenti pada kelas, tetapi hadir di tengah persoalan masyarakat. Danau Limboto memberi kita “buku hidup” yang sangat kaya untuk belajar—bukan hanya tentang kimia lingkungan, tetapi tentang tanggung jawab, keberanian berpikir berbasis bukti, dan etika mengambil keputusan.
Jika model seperti FBEP diperluas dan dikerjakan secara konsisten, kampus tidak lagi sekadar tempat mengejar gelar, melainkan pusat pembelajaran yang ikut menjaga masa depan daerah. Pada akhirnya, yang kita harapkan sederhana: ilmu yang dipahami, dan manfaat yang dirasakan. (*)