GORONTALO - Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas hasil panen yang memenuhi standar industri.
Salah satu tantangan yang dihadapi petani kakao, khususnya di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, adalah proses pengolahan pascapanen yang belum optimal.
Salah satu tahapan penting dalam pengolahan biji kakao adalah fermentasi. Proses ini berperan dalam membentuk cita rasa, aroma, dan warna khas kakao yang menentukan kualitas produk akhir. Keberhasilan fermentasi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama suhu. Suhu fermentasi yang tidak terpantau dengan baik dapat menyebabkan proses fermentasi berlangsung tidak optimal dan menghasilkan mutu biji kakao yang tidak seragam.

Selama ini, pemantauan suhu masih banyak dilakukan berdasarkan perkiraan dan pengalaman petani, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih terukur untuk meningkatkan konsistensi hasil fermentasi. Menanggapi permasalahan tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Program Studi Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diketuai oleh Dr. Rahmat Romadhon, S.T., M.T., dengan anggota mahasiswa Abdul Akhir Zainudin, Janson Immanuel Hutapea, dan Kayla Salsabila, berkolaborasi dengan Universitas Negeri Gorontalo yang diwakili oleh Syafril AgustionTomayahu, S.Pd, M.T., menghadirkan program penerapan teknologi monitoring suhu fermentasi biji kakao berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Puncak Jaya, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Program ini dilaksanakan melalui skema Program Pengabdian Masyarakat Bottom-Up Tahun 2026 Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, serta bertujuan untuk memperkenalkan teknologi monitoring suhu sekaligus meningkatkan pemahaman petani mengenai pentingnya pemantauan suhu dalam proses fermentasi biji kakao.
Program ini mengusung pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam tahapan pelaksanaannya. Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada Sabtu (7/11/2026) ini turut dihadiri oleh Kepala Desa Puncak Jaya, Abdul Halim Amrain, serta disambut antusiasme warga setempat. Dalam kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan dengan prinsip kerja sistem monitoring suhu, komponen perangkat, serta cara membaca dan memanfaatkan data hasil pengukuran untuk mendukung proses fermentasi biji kakao.
Sistem monitoring yang dikembangkan terdiri atas sensor suhu, mikrokontroler, perangkat komunikasi nirkabel, serta sistem penyimpanan dan visualisasi data. Sensor ditempatkan pada beberapa titik di dalam tumpukan biji kakao, yaitu bagian atas dan bawah, untuk memperoleh gambaran kondisi suhu selama fermentasi berlangsung. Data pengukuran kemudian dikirimkan melalui jaringan Wi-Fi menuju server lokal dan diteruskan ke penyimpanan berbasis cloud. Selanjutnya, data dapat diakses melalui dashboard menggunakan komputer maupun telepon pintar.
Melalui sistem tersebut, petani dapat memantau perubahan suhu secara real-time tanpa harus terus-menerus membuka kotak fermentasi. Selain menampilkan nilai suhu pada masing-masing titik pengukuran, dashboard juga menyediakan informasi status perangkat dan waktu pembaruan data. Pencatatan suhu secara berkala diharapkan dapat menjadi dokumentasi yang bermanfaat untuk mengevaluasi proses fermentasi dan meningkatkan konsistensi kualitas biji kakao.
Dalam proses fermentasi, suhu ideal yang menjadi acuan pemantauan berada pada rentang 45-50°C. Proses fermentasi umumnya berlangsung selama kurang lebih tujuh hari, dengan kemungkinan terjadinya peningkatan suhu selama proses berlangsung. Apabila suhu berada di luar rentang tersebut, petani dapat melakukan tindakan penyesuaian, seperti membalik atau mengaduk biji kakao serta mengatur kondisi penutup kotak fermentasi. Dengan demikian, sistem yang diterapkan tidak hanya memberikan informasi pengukuran, tetapi juga membantu petani mengambil keputusan berdasarkan kondisi aktual fermentasi.
Melalui penerapan teknologi monitoring suhu berbasis IoT, program pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam melakukan fermentasi biji kakao. Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas dan konsistensi hasil fermentasi diharapkan dapat memperkuat daya saing kakao lokal, meningkatkan nilai jual hasil panen, serta membuka peluang pengembangan produk kakao unggulan di Kabupaten Pohuwato.
Lebih jauh, program ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong pengembangan ekosistem pengolahan kakao di tingkat lokal. Dengan meningkatnya kemampuan petani dalam mengolah hasil panen, potensi kakao tidak hanya berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan melalui kegiatan hilirisasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat serta menjadi salah satu upaya untuk mendukung keberlanjutan pengembangan komoditas kakao di wilayah tersebut.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjembatani penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kolaborasi antara akademisi perguruan tinggi, dan kelompok tani, teknologi diharapkan tidak hanya menjadi inovasi yang diperkenalkan, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara nyata untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pada akhirnya, penerapan sistem monitoring suhu fermentasi biji kakao di Desa Puncak Jaya menjadi langkah untuk memperkenalkan pengolahan kakao yang lebih terukur, berbasis data, dan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat mendukung lahirnya produk kakao lokal berkualitas yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas, sekaligus tetap mempertahankan identitas dan asal-usul geografisnya. (*)