GORONTALO - Unsur pimpinan dan ustadz ustadzah Pondok Pesantren Hubulo menemui keluarga korban santri kelas 1 MTs di Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Rabu (4/11/2026). Santri tersebut meninggsl saat berwisata di Sungai Botumotoli'oluo, Desa Longalo kecamatan Bulango Utara, Bone Bolango pada dua pekan lalu.
Pihak pesantren didampingi sejumlah alumni menyampaikan ungkapan belasungkawa, permohonan maaf dan penyesalan atas peristiwa naas tersebut. Kronologi peristiwa dijelaskan kepada keluarga korban berdasarkan keterangan kepala asrama putri dan ustadzah yang hadir di lokasi.
"Anak-anak santri berinisiatif melakukan rekreasi. Usulan itu kami sampaikan di rapat yang dihadiri pimpinan pesantren dan disetujui," Jelas Kepala Asrama Putri Ustadzah Wirnawati Hunawa.
Kelas 1 mendapat jatah rekreasi di hari Jumat pekan ketiga setelah sebelumnya siswa kelas 6, 5 dan 4 telah selesai di dua pekan sebelumnya. Umi Wirna meminta Umi Nita Laya dan Umi Nur Rahmawati Paneo menjaga 41 santri kelas 1. Keduanya ditemani 13 santriwati senior kelas 6,5 dan 4 masing masing enam, lima dan dua orantg. Total ada 54 orang santriwati yang berangkat.
"Karena waktu itu saya masih ada acara keluarga maka Umi Nita dan Umi Rahma yang berangkat duluan. Saya mendapat kabar santriwati meninggal masih di acara sehingga saya segera ke lokasi. Saya berpapasan dengan mobil yang membawa jenazah di jalan sehingga saya langsung ke rumah sakit," Jelas Umi Wirna dengan tangan gemetar sambil terisak.
Peristiwa di tempat kejadian perkara dijelaskan Umi Nita. Menurutnya, kejadian terjadi begitu cepat. Sekitar pukul 11 lewat santriwati diminta naik karena mendekati salat Jumat.
"Saat itu mereka minta foto, umi foto dulu kata anak-anak. Ada tiga kelompok.yang berdiri kelompok sebelah kiri dan tengah saya foto satu persatu yang sebelah kanan tidak sempat difoto. Almarhumah ini di kelompok kiri. Dua kelompok ini sudah naik dan almarhumah ini pindah ke kelompok sebelah kanan yang masih di sungai," Jelasnya.
Umi Nita berbalik menuju ke arah tempat barang-barang. Menurutnya, belum sempat duduk santriwati sudah ribut ada yang tenggelam.
"Begitu saya tiba di sungai, korban sudah dievakuasi di bibir sungai. Korban sudah dipompa dadanya namun tidak sadarkan diri," Bebernya.
Pihak pesantren berupaya menjelaskan kronologi di depan orang sambil sesekali menjawab pertanyaan dari keluarga korban. Wakil Pimpinan II Ansor Mobilingo menyampaikan permohonan maaf, rasa penyesalan dan berjanji akan melakukan perbaikan.
"Kami mohon maaf yang tulus atas peristiwa ini. Kami berjanji akan melakukan perbaikan," Pinta Ustadz Ansor Mobilingo.
Keluarga korban mengaku sudah memberi maaf yang tulus pada pihak pesantren. Dolot Alhasni Bakung ayah korban mengaku mencintai pesantren sebagaimana ia mencintai putrinya.
"Kami ingin pihak pesantren menyampaikan press relase ke media terkait kronologi, permohonan maaf terbuka dan memperbaiki SOP. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi pesantren," Ungkapnya.
Sebelumnya rombongan ustadz ustadzah dan perwakilan alumni menggelar ziarah ke makam Azkayra Nafeeza Bakung tidak jauh dari rumah orang tua. Suasana haru penuh kekeluargaan mewarnai pertemuan kedua belah pihak.