Go-Pena Baner

Wednesday, 03 June, 2026

Ikan Melimpah Belum Tentu Menyejahterakan: Membaca MSY, MEY, dan Blue Accounting untuk Masa Depan Perikanan Gorontalo

Responsive image
Ilustrasi Nelayan

Perikanan Gorontalo tidak cukup dinilai dari banyaknya hasil tangkap. Di balik angka produksi, ada ukuran biologis, ekonomi, dan cara pandang akuntansi sumber daya laut MSY, MEY, dan blue accounting yang menentukan apakah laut tetap produktif sekaligus mampu menjaga penghasilan nelayan.

Oleh: Andriani A. Zain| Mahasiswa S2 Sains Akuntansi

Bagi Gorontalo, laut bukan sekadar bentang alam yang indah dipandang. Laut adalah sumber nafkah, ruang kerja, dan penyangga ekonomi bagi banyak keluarga pesisir. Karena itu, pembicaraan tentang perikanan tidak semestinya berhenti pada seberapa banyak ikan yang berhasil didaratkan. Yang jauh lebih penting ialah apakah praktik penangkapan hari ini masih memberi ruang bagi laut untuk pulih, dan apakah hasil yang diperoleh benar-benar cukup untuk menopang kehidupan nelayan.

Di titik inilah istilah Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Maximum Economic Yield (MEY) menjadi relevan untuk dibicarakan secara lebih luas. MSY dapat dipahami sebagai batas tangkapan yang masih memungkinkan sumber daya ikan tetap lestari dari waktu ke waktu. Sementara itu, MEY menekankan titik tangkap yang paling menguntungkan secara ekonomi, yakni saat hasil yang diperoleh masih sebanding dengan biaya, tenaga, dan risiko yang dikeluarkan. Dengan kata lain, MSY berbicara tentang keberlanjutan stok, sedangkan MEY berbicara tentang keberlanjutan pendapatan. Jika keduanya dibaca dari sudut pandang akuntansi, pembahasannya lalu bergerak ke pertanyaan yang lebih luas: bagaimana kekayaan laut dicatat, dinilai, dan dijaga agar tidak habis oleh orientasi jangka pendek.

Membaca angka dengan lebih jernih

Data resmi memperlihatkan bahwa sektor kelautan dan perikanan memang punya posisi penting di Gorontalo. Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo menyebut sektor ini berperan strategis dalam struktur ekonomi daerah, baik dari sisi kontribusi terhadap perekonomian, penyerapan tenaga kerja, maupun sebagai sumber penghidupan masyarakat pesisir. Dalam paparan BPS pada 3 Maret 2026, produksi perikanan laut yang dijual di Tempat Pelelangan Ikan selama Januari–Desember 2024 juga digambarkan berfluktuasi, dari 989 ton pada Januari menjadi 637 ton pada Desember, dengan nilai produksi yang ikut bergerak dari Rp14.221 juta menjadi Rp11.344 juta.

Besarnya arti sektor ini juga terlihat dari struktur ekonomi daerah. Dalam Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Gorontalo tanggal 5 November 2025, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan tercatat masih menjadi kontributor terbesar dalam perekonomian Gorontalo, dengan porsi 37,26 persen pada triwulan III-2025. Angka ini mengingatkan kita bahwa setiap kebijakan di sektor perikanan sesungguhnya tidak hanya menyentuh urusan produksi, tetapi juga menyentuh stabilitas sosial dan ekonomi daerah.

MSY dan MEY bukan sekadar istilah kampus

Karena itu, pembacaan atas MSY dan MEY tidak seharusnya diperlakukan sebagai istilah akademik yang berhenti di ruang seminar. Keduanya justru penting sebagai kompas kebijakan. Ketika penangkapan didorong melebihi kemampuan pulih sumber daya, laut akan menanggung tekanannya lebih dulu. Namun ketika penangkapan terlalu ditekan tanpa mempertimbangkan penghidupan masyarakat, nelayan yang akan lebih dulu merasakan dampaknya. Di sinilah keseimbangan menjadi kata kunci.

Salah satu bahan refleksi datang dari analisis Hulondalo yang terbit pada 1 Juni 2026 dengan basis data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2022–2024. Analisis itu menunjukkan bahwa beberapa komoditas di Gorontalo perlu dibaca secara hati-hati. Tuna, misalnya, dilaporkan memiliki nilai MSY sebesar 42.854,55 ton per tahun dengan MEY sebesar 34.497,65 ton per tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa ruang tangkap yang aman secara biologis belum tentu identik dengan titik yang paling efisien dan menguntungkan secara ekonomi.

Analisis yang sama juga menegaskan bahwa pengelolaan perikanan tidak bisa disamaratakan untuk semua komoditas. Cakalang, tongkol, dan layang memiliki karakter tangkap, biaya operasi, serta tekanan pemanfaatan yang berbeda. Karena itu, kebijakan yang hanya mengejar angka produksi total berisiko menutup perbedaan penting di lapangan. Padahal, yang dibutuhkan bukan hanya peningkatan hasil tangkap, melainkan tata kelola yang lebih presisi.

Saat produksi naik, kesejahteraan belum tentu ikut naik

Di lapangan, nelayan tidak hidup dari statistik semata. Mereka hidup dari selisih antara hasil tangkap dan biaya yang harus dibayar untuk melaut. Ketika bahan bakar mahal, cuaca buruk, perjalanan makin jauh, dan hasil tidak menentu, maka kenaikan produksi di tingkat agregat belum tentu berarti pendapatan nelayan membaik. Di sinilah MEY menjadi sangat penting, karena ukuran ini berbicara langsung tentang efisiensi dan kelayakan usaha.

Pandangan tersebut sejalan dengan artikel ilmiah NIKé Journal Universitas Negeri Gorontalo tahun 2024 mengenai strategi nelayan buruh bertahan hidup pada musim paceklik di perairan Teluk Tomini, Kabupaten Bone Bolango. Kajian itu memperlihatkan bahwa nelayan kecil kerap harus melakukan berbagai penyesuaian untuk bertahan, mulai dari menekan pengeluaran rumah tangga, mencari pekerjaan tambahan, hingga bergantung pada jejaring sosial di sekitarnya. Artinya, pembahasan tentang perikanan tidak bisa dilepaskan dari daya tahan ekonomi rumah tangga nelayan.

Dari MSY dan MEY ke blue accounting

Bagi mahasiswa Magister Sains Akuntansi, pembicaraan tentang perikanan sesungguhnya tidak berhenti pada produksi, harga, atau laba sesaat. Ada satu pertanyaan penting yang perlu diajukan: apakah laut diperlakukan hanya sebagai sumber pemasukan hari ini, atau juga sebagai aset yang nilainya harus dijaga untuk masa depan? Di sinilah gagasan blue accounting menjadi relevan. Secara sederhana, blue accounting dapat dipahami sebagai cara membaca ekonomi kelautan dengan lebih lengkap, yaitu dengan melihat hubungan antara hasil tangkap, biaya usaha, kondisi ekosistem, dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir.

Kerangka berpikir ini sejalan dengan ecosystem accounting dalam System of Environmental-Economic Accounting (SEEA) yang diadopsi Komisi Statistik PBB pada Maret 2021. Dalam kerangka itu, ekosistem tidak hanya dipahami sebagai ruang alam, tetapi juga sebagai aset yang kondisinya dapat dilacak, jasanya dapat diidentifikasi, dan manfaatnya dapat dihubungkan dengan aktivitas ekonomi. World Bank juga mengingatkan bahwa ukuran konvensional seperti Produk Domestik Bruto belum cukup untuk menangkap nilai penuh ekosistem laut dan pesisir, termasuk kerugian yang muncul ketika sumber daya terdegradasi. Artinya, bila perikanan hanya dibaca dari nilai produksi tahunan, ada risiko besar bahwa biaya ekologis dan kerentanan sosial justru luput dari perhatian.

Dalam konteks Indonesia, cara pandang ini sejalan dengan arah ekonomi biru yang terus didorong Kementerian Kelautan dan Perikanan. KKP menegaskan bahwa strategi ekonomi biru diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekologi dan ekonomi. Bahkan dalam publikasi Ocean Accounts of Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai ocean accounting sebagai alat penting untuk memastikan praktik yang berkelanjutan agar sumber daya laut tetap tumbuh. Untuk Gorontalo, ini berarti MSY dan MEY seharusnya tidak berhenti sebagai angka kajian, tetapi menjadi pintu masuk menuju pencatatan yang lebih utuh: berapa nilai bersih yang benar-benar tercipta, berapa biaya yang ditanggung nelayan, bagaimana kondisi sumber daya berubah, dan seberapa besar manfaat ekonomi itu masih bisa diwariskan ke masa depan.

Dengan demikian, blue accounting memberi sudut pandang yang lebih dekat dengan ilmu akuntansi. Ia mengajak kita melihat laut bukan hanya sebagai sumber produksi, melainkan sebagai kekayaan publik yang perlu dijaga nilai ekonominya tanpa mengabaikan daya pulih ekologinya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, perikanan yang sehat bukan hanya perikanan yang banyak ikannya, tetapi juga perikanan yang pembiayaannya masuk akal, keuntungannya layak, stoknya tidak ditekan berlebihan, dan manfaatnya tetap terasa bagi rumah tangga nelayan dari waktu ke waktu.

Arah kebijakan yang lebih masuk akal

Atas dasar itu, ada beberapa hal yang layak menjadi perhatian. Pertama, MSY dan MEY perlu dipakai sebagai dasar nyata dalam penyusunan kebijakan, bukan sekadar istilah yang dicantumkan dalam laporan. Kedua, evaluasi sebaiknya dilakukan per komoditas agar pemerintah tidak terjebak pada pendekatan yang terlalu umum. Ketiga, penguatan kesejahteraan nelayan harus berjalan bersamaan dengan upaya menjaga stok, misalnya melalui efisiensi rantai distribusi, dukungan infrastruktur perikanan, akses pembiayaan yang lebih sehat, perlindungan ketika musim paceklik datang, serta penguatan data biaya, nilai tambah, dan kondisi sumber daya sebagai dasar blue accounting daerah.

Pada akhirnya, masa depan perikanan Gorontalo tidak boleh ditentukan hanya oleh seberapa cepat hasil laut bisa diambil. Masa depan itu justru ditentukan oleh seberapa cermat sumber daya dikelola. MSY mengingatkan bahwa laut memiliki batas, MEY mengingatkan bahwa nelayan memerlukan keuntungan yang layak, sedangkan blue accounting mengingatkan bahwa setiap keputusan ekonomi semestinya membaca nilai laut secara lebih utuh. Jika tiga cara pandang ini dipertemukan secara serius, maka perikanan Gorontalo tidak hanya bisa produktif hari ini, tetapi juga tetap hidup, adil, dan menjanjikan pada masa depan.

Sumber rujukan


Share