Go-Pena Baner

Monday, 29 June, 2026

Antara Romantisasi dan Realitas Sebuah Kritik terhadap Representasi Keluarga dalam Drama Korea pada Momentum Hari Keluarga Nasional

Responsive image
Sitti Rachmi Masie

Oleh 

Sitti Rachmi Masie (Dosen Fakultas Sastra dan Budaya UNG) 

Fenomena film drama Korea, atau dikenal dengan drakor ini memunculkan pertanyaan apakah gambaran keluarga dalam drama Korea menjadi inspirasi bagi penguatan keluarga, atau justru menciptakan standar ideal yang semakin jauh dari realitas? 

Ketika layar menjadi cermin, dan cermin menjadi standar. Setiap peringatan Hari Keluarga Nasional 29 Juni, ruang publik Indonesia dipenuhi wacana mengenai pentingnya membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan berkualitas. Di sisi lain, masyarakat khususnya generasi muda justru lebih banyak menikmati representasi keluarga melalui budaya populer, terutama drama Korea (K-Drama). Pertanyaan tersebut penting karena keluarga hari ini  selain dibentuk oleh nilai-nilai agama, dan budaya  juga oleh media digital yang bekerja secara halus melalui cerita, emosi, dan identifikasi tokoh. 

Romantisasi drama Korea, yang menjual emosi banyak digandrungi oleh generasi Z. Drama Korea memiliki kemampuan luar biasa dalam membangun ikatan emosional penonton. Konflik keluarga dibuat dengan sinematografi yang indah, dialog yang menyentuh, dan akhir cerita yang memberikan harapan. Orang tua digambarkan rela berkorban tanpa batas, saudara akhirnya saling memaafkan, dan pasangan menemukan kebahagiaan setelah melewati penderitaan. 

Media cerita seperti ini memang memberikan optimisme. Namun, pada saat yang sama, ia membentuk romantisasi keluarga, sebuah konstruksi yang menampilkan keluarga sebagai ruang yang pada akhirnya selalu berhasil menyelesaikan konflik melalui cinta. Padahal, realitas keluarga modern jauh lebih kompleks. Tidak semua luka keluarga memperoleh penyelesaian. Tidak semua hubungan dapat dipulihkan hanya dengan permintaan maaf. Tidak semua orang tua memiliki kapasitas emosional yang sehat. Heterogennya karakter, biasanya menjadi bagian permasalahan itu. Di sinilah media sering kali mengaburkan batas antara harapan dan kenyataan. 

Selama beberapa dekade, keluarga, sekolah, dan institusi agama merupakan agen utama pembentukan nilai. Kini, posisi tersebut mulai berbagi ruang dengan industri hiburan global. Drama Korea tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga memperkenalkan cara berinteraksi, pola pengasuhan, ekspresi kasih sayang, hingga definisi keluarga ideal. Penonton perlahan membangun persepsi bahwa keluarga yang "baik" adalah keluarga yang menyerupai representasi di layar. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya populer telah menjadi agen sosialisasi nilai yang sangat berpengaruh. Persoalannya, nilai yang diproduksi industri hiburan tidak selalu lahir dari kebutuhan sosial masyarakat, melainkan dari logika pasar. Cerita harus menarik, konflik harus dramatis, dan emosi harus mampu mempertahankan perhatian penonton. Akibatnya, keluarga tidak lagi sekadar dipahami sebagai institusi sosial, tetapi juga sebagai komoditas naratif. 

 Sungguh sangat berbeda, ketika negara melaksanakan sosialisasi Hari Keluarga Nasional melalui seminar, slogan, dan media formal, sebagian masyarakat justru memperoleh pendidikan emosional tentang keluarga dari platform streaming. Paradoks ini menunjukkan adanya kesenjangan antara narasi institusional dan narasi populer. 

Pesan resmi sering kali bersifat normatif, keluarga harus harmonis, orang tua harus mendidik dengan baik, anak harus berbakti. Sebaliknya, drama Korea menghadirkan konflik yang dekat dengan pengalaman manusia, perceraian, trauma masa kecil, tekanan ekonomi, ambisi orang tua, kesepian lansia, hingga kesehatan mental. Tidak mengherankan jika masyarakat merasa lebih terhubung secara emosional dengan cerita fiksi dibandingkan dengan kampanye pemerintah. 

Sehingga standar Keluarga yang Semakin Tidak Realistis, karena persoalan lain adalah munculnya ekspektasi yang tidak realistis. Banyak penonton tanpa sadar membandingkan keluarganya dengan keluarga dalam drama. Orang tua dianggap kurang hangat, pasangan dianggap kurang romantis, atau hubungan antaranggota keluarga terasa tidak cukup ideal. Padahal, drama merupakan hasil konstruksi artistik yang telah melalui proses seleksi, penyuntingan, dan dramatisasi. 

Ketika representasi media dijadikan ukuran kehidupan nyata, lahirlah ketidakpuasan sosial yang sesungguhnya tidak berakar pada realitas, melainkan pada ekspektasi yang dibentuk media. 

Apa yang bisa dipelajari oleh masyarakat Indonesia? Kritik terhadap drama Korea bukan berarti menolak budaya populer. Sebaliknya, Indonesia justru dapat belajar dari keberhasilan industri kreatif Korea Selatan dalam menjadikan isu keluarga sebagai narasi yang menarik sekaligus menyentuh. Yang perlu dibangun bukanlah imitasi terhadap cerita Korea, melainkan kemampuan menghadirkan kisah-kisah keluarga Indonesia yang autentik. Keluarga yang hidup di tengah keberagaman budaya, tantangan ekonomi, perkembangan teknologi, serta nilai-nilai religius yang menjadi fondasi masyarakat. 

 Hari Keluarga Nasional semestinya tidak hanya mengajak masyarakat mencintai keluarga, tetapi juga mengkritisi bagaimana media membentuk cara kita memahami keluarga. Keluarga yang sehat bukanlah keluarga tanpa konflik sebagaimana sering digambarkan di layar, melainkan keluarga yang memiliki kemampuan berdialog, beradaptasi, menyelesaikan perbedaan, dan bertumbuh bersama. 

Ukuran keberhasilan sebuah keluarga tidak ditentukan oleh seberapa mirip ia dengan drama Korea, melainkan oleh sejauh mana ia mampu menjadi ruang aman bagi setiap anggotanya untuk tumbuh sebagai manusia yang utuh. Di era dominasi budaya populer, kemampuan membedakan antara romantisasi media dan realitas sosial merupakan bentuk ketahanan keluarga yang sama pentingnya dengan kasih sayang itu sendiri. (*) 


Share