Go-Pena Baner

Thursday, 02 April, 2026

BUDAYA MUTU, ANTARA DISERTASI DAN AKSI

Responsive image
Mely Pakaya ASN Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo yang Berhasil Meraih Gelar Doktor di UNG

Oleh: Anang S. Otoluwa

Rabu malam kemarin, waktu sudah pukul 23.33. Mata saya sudah hampir tertutup. Tiba-tiba sebuah pesan WA masuk dari Evy Ne'u. Singkat tapi urgent, seorang ibu hamil membutuhkan darah untuk operasi sesar. Tak pelak, mata saya kembali terbelalak.

Tidak ada waktu untuk menimbang panjang. Tangan ini bergerak lebih cepat, menghubungi satu per satu jejaring yang bisa diandalkan. Alhamdulillah, jam 00.06, Melky (driver kantor) memberi kabar, ada pendonor darah yang siap.

Namun, masalahnya belum selesai. Unit Transfusi Darah (UTD) meminta blanko permintaan darah. Saya pun kembali menghubungi bu Evy. Waktu berjalan. Menit demi menit berlalu tanpa kabar. Hingga akhirnya, dalam diamnya malam, saya kalah oleh kantuk.

Saya terbangun Subuh,  dengan rasa bersalah. Saat buka hp, ternyata pesan dari bu Evy sudah masuk pukul 00.37, lengkap dengan blanko yang dibutuhkan. Tapi, mau bikin apa, saya terlanjur tertidur. Sebuah celah kecil dalam rantai pertolongan yang bisa saja berakibat besar. Bagaimana jika operasi itu harus dilaksanakan mendadak tadi malam? Apakah keluarga sudah mendapatkan darah?

Saya segera menghubungi kembali ibu Evy. Menanyakan kabar pasien. Namun, hingga pukul 07.30, belum juga ada jawaban.

Dalam penantian itu, semangat teman-teman tetap siaga, tetap berusaha menyiapkan darah. Di group WA Dinkes, Agus Lihu menyatakan kesiapannya. Begitu juga ibu Meldy. Mereka terus berupaya menyiapkan darah, walau belum tentu masih dibutuhkan.

Lalu datang kabar baik itu. Sebuah foto dikirim oleh Melky. Jam 8.40, dia sudah berada di samping pasien. Katanya, operasi dijadwalkan pukul 11.00, dan darah sudah tersedia.

Rasa syukur saya mengalir deras. Bukan hanya karena pasien tertolong. Tapi karena saya menyaksikan sesuatu yang lebih besar: sebuah ekosistem kepedulian yang bekerja, bahkan ketika salah satu bagiannya sempat terhenti.

Sebenarnya, upaya membantu ini bisa saja kami hentikan sampai disini. Tidak ada kabar dari yang butuh. Tidak ada pula kewajiban formal. Tapi semangat teman-teman yang tetap bergerak itu menjadi energi yang menular. Mereka tidak bekerja karena diminta. Mereka bekerja karena peduli.

Jam 10.00, saya sudah duduk di ruang sidang Lt.2, Pasca Sarjana Universitas Negeri Gorontalo (UNG), menghadiri promosi doktor. Promovendanya adalah Mely Pakaya (staf di Dinkes Provinsi). Disertasinya  tentang budaya mutu di puskesmas.

Hasil penelitiannya menyimpulkan, enam pilar _Total Quality Management_(TQM) yang dikemukakan oleh Besterfield (2012) itu, belum cukup membuat puskesmas memberikan layanan bermutu. Hasil akreditasi tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Meski akreditasi paripurna, tapi layanan tetap belum prima.

Karenanya, dia menawarkan kebaruan (novelty), yakni budaya mutu institusi. Enam pilar TQM harus dilandasi oleh budaya mutu.

Sambil mendengarkan jawaban Mely dalam mempertahankan disertasinya, saya tertegun. Tanpa sadar, pagi itu saya sudah menyaksikan disertasi itu dalam bentuk nyata.

Budaya mutu bukan sekadar dokumen. Bukan slogan yang ditempel di dinding. Bukan sekedar kepatuhan kepada SOP. Tapi ia hidup dalam tindakan-tindakan kecil yang konsisten. Dalam kesediaan untuk tidak berhenti di “tugas selesai”. Tapi melangkah lebih jauh hingga memastikan “tujuan tercapai”.

Sore harinya, di jam 16.30, saya menerima kabar gembira dari Meldy dan Melky. Ibu hamil itu telah dioperasi. Kadar Hemoglobin (Hb) paska operasi 8,8, dan masih terus dipantau. Kemungkinan transfusi masih terbuka.

Sambil menikmati pisang goreng buatan istri, sore itu saya banyak tersenyum. Hari itu terasa istimewa. Bukan karena saya melakukan sesuatu yang besar. Tapi karena saya melihat betapa kuatnya sebuah tim yang bekerja dengan budaya mutu.

Ketika seorang penguji masih bertanya kepada Mely, bagaimana budaya mutu itu diterapkan, saya telah mendapatkan jawaban. Bukan dari buku, tapi dari kehidupan. Bukan dari disertasi, tapi dari sebuah aksi.

Budaya mutu adalah ketika kita tidak berhenti hanya karena prosedur sudah dijalankan, tetapi terus bergerak sampai kita yakin bahwa hasil terbaik telah ditunaikan.
Budaya mutu adalah ketika kepedulian melampaui kewajiban.
Dan yang paling penting, budaya mutu adalah ketika setiap orang dalam organisasi merasa memiliki tanggung jawab yang sama terhadap kualitas layanan, keselamatan, dan kemanusiaan.

Hari itu, saya belajar dari pengalaman. Sistem boleh saja memiliki celah, manusia bisa saja lelah, tapi jika budaya mutu sudah menjadi napas bersama, maka pelayanan tidak akan pernah  berhenti.

Selamat kepada Mely yang telah melahirkan teori budaya mutu dalam sebuah disertasi. Terima kasih kepada Agus, Melky, dan Meldy yang telah mencontohkan itu dalam sebuah aksi. (*)


Share