Gorontalo — Guru Besar Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, Asna Ntelu, mengungkapkan bahwa bahasa Gorontalo, Suwawa, Atinggola, dan Bulango memiliki hubungan kekerabatan genealogis yang kuat dan berasal dari satu tradisi kebahasaan yang sama. Temuan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar yang berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka UNG, Selasa (3/2/2026).
Dalam orasi berjudul “Menelusuri Jejak Kekerabatan Bahasa Gorontalo, Suwawa, Atinggola, dan Bulango di Provinsi Gorontalo”, Prof. Asna menjelaskan bahwa kajian ini menggunakan pendekatan linguistik historis dengan metode leksikostatistik, yakni membandingkan 200 kosakata dasar Swadesh untuk menentukan tingkat kekerabatan dan waktu pisah antarbahasa.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat bahasa daerah di Gorontalo memiliki hubungan kekerabatan yang jelas dan terukur secara ilmiah, bukan sekadar kemiripan kebetulan,” ujar Prof. Asna di hadapan senat universitas.
Berdasarkan analisis, hubungan antara bahasa Gorontalo dengan bahasa Suwawa, Atinggola, dan Bulango berada pada kategori keluarga bahasa (language family), dengan tingkat kesamaan leksikal berkisar antara 55 hingga 59 persen. Sementara itu, hubungan antara bahasa Atinggola dan Bulango menunjukkan kedekatan paling tinggi, dengan tingkat kesamaan mencapai lebih dari 83 persen, sehingga dapat diklasifikasikan sebagai bahasa yang sama (language).
Selain memetakan tingkat kekerabatan, penelitian ini juga mengungkap estimasi waktu pisah bahasa. Prof. Asna memaparkan bahwa diferensiasi bahasa-bahasa tersebut terjadi secara bertahap dalam rentang sejarah panjang, mulai dari sekitar abad ke-7 hingga abad ke-14. Temuan ini menegaskan bahwa variasi bahasa di Gorontalo merupakan hasil proses historis yang berkelanjutan.
Lebih jauh, Prof. Asna menekankan bahwa kajian kekerabatan bahasa tidak hanya penting bagi pengembangan ilmu linguistik, tetapi juga memiliki makna strategis dalam pelestarian bahasa daerah, penguatan identitas budaya, serta pengembangan bahan ajar muatan lokal berbasis kearifan lokal Gorontalo.
“Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan memori kolektif yang merekam sejarah, relasi sosial, dan jati diri masyarakat penuturnya,” tuturnya.
Orasi ilmiah ini menjadi bentuk pertanggungjawaban akademik Prof. Asna Ntelu atas amanah jabatan Guru Besar dalam bidang Analisis Wacana Budaya, sekaligus kontribusi nyata bagi dokumentasi dan pemetaan bahasa daerah di Provinsi Gorontalo. (Wan)