GOPENA.ID - Turnamen Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat SMP se-Kota Gorontalo selesai digelar dan menetapkan SMP Negeri 6 sebagai juara pertama.
Bukannya langsung dipersiapkan ke tingkat provinsi, justru muncul aturan seleksi ulang yang membuat orang tua siswa kecewa.
Orang tua atlet dari SMP Negeri 6, Ratna Adam, mempertanyakan alasan seleksi ulang ini. Menurutnya, turnamen yang sudah digelar seharusnya jadi penentu siapa yang berhak mewakili Kota Gorontalo ke tingkat provinsi.
"Sudah ada kan pemenang turnamen GSI, sudah ada yang juara 1, untuk apa diseleksi kembali?" tanya Ratna.
Kekecewaan bertambah karena seleksi ulang tidak hanya melibatkan pemain dari juara, tapi juga memberi kesempatan pada anak-anak yang tidak masuk juara 1, 2, dan 3 pada ajang seleksi turnamen kemarin. Hal ini membuat orang tua curiga ada campur tangan pihak tertentu.
"Masalahnya anak-anak kami sudah dipersiapkan dari jauh hari, ada kualitas juga, kami tidak hanya asal berkoar-koar tapi penonton bisa liat juga kalau anak kami memang berkualitas," ungkapnya pada Rabu, (27/8/2025).
Lebih lanjut masalah lain, pelatih dan asisten pelatih SMP Negeri 6 yang sebelumnya mendampingi tim sampai juara, tidak dilibatkan lagi dalam seleksi ke provinsi. Justru ada orang lain yang ditunjuk sebagai penyeleksi.
Para orang tua berharap pemerintah kota bisa segera menjelaskan persoalan ini. Mereka ingin proses pembinaan atlet muda dilakukan dengan adil dan transparan, agar sepak bola Gorontalo bisa maju tanpa ada kepentingan tertentu.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, Lukman Kasim, angkat bicara soal seleksi ulang Gala Siswa Indonesia (GSI).
Ia menjelaskan, ada dua cara seleksi sesuai petunjuk teknis, yaitu lewat sistem kompetisi dan penilaian keterampilan dasar. Kota Gorontalo memilih sistem kompetisi.
"Kalau sudah pilih kompetisi, mestinya tim pencari bakat menilai pemain dari awal sampai akhir pertandingan," kata Lukman, pada hari yang sama.
Lukman juga membenarkan kalau pihaknya bersama guru-guru sempat dua kali rapat. Hasil rapat itu memutuskan akan menyeleksi lagi 40 pemain setelah turnamen selesai.
"Tapi saya bingung, kalau sudah ada juara lalu masih diseleksi lagi 40 orang, apa gunanya ko²mpetisi itu?” ujarnya.
Akhirnya, Lukman mengambil jalan tengah. Jumlah pemain yang ikut seleksi ulang dikurangi jadi 28 orang saja. Dari jumlah itu, 12 pemain diambil dari tim juara pertama, sisanya dari tim juara dua dan tiga.
Meski begitu, cara ini tetap berbeda dengan aturan awal yang menyebutkan seleksi berdasarkan kompetisi.
"Saya hanya butuh 28 orang untuk seleksi ulang, 12 di antaranya dari tim juara. Dan saya sendiri yang akan menilai," tegas Lukman. (Ren)