Gorontalo – Tokoh asal Bone Bolango sekaligus pemilik Villa Cleopatra , Hariyanto Tilome atau yang akrab disapa Poken, menegaskan bahwa Gorontalo memiliki landasan sejarah, adat, dan kekayaan sumber daya alam yang kuat untuk diperjuangkan sebagai Daerah Istimewa.
Menurut Poken, Gorontalo memiliki kesamaan karakter dengan Aceh yang dikenal sebagai Serambi Madinah. Nilai religius, adat istiadat yang masih dijaga, serta semangat perjuangan rakyat Gorontalo menjadi identitas daerah yang tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah bangsa.
Ia menekankan bahwa salah satu tonggak penting sejarah Gorontalo adalah Hari Patriotik 23 Januari 1942, sebuah peristiwa monumental ketika rakyat Gorontalo di bawah kepemimpinan Nani Wartabone menyatakan kemerdekaan dari penjajahan jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.
“Gorontalo itu sudah merdeka lebih dulu. Peristiwa 23 Januari 1942 adalah bukti nyata keberanian dan nasionalisme rakyat Gorontalo. Ini nilai sejarah besar yang tidak dimiliki semua daerah,” ujar Poken.
Selain faktor historis, Poken menyebut Gorontalo juga dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Dari wilayah barat hingga timur, mulai dari Pohuwato sampai Bone Bolango, tersimpan potensi tambang dan mineral dengan kualitas yang sangat baik. Sektor ini bahkan menjadi mata pencaharian utama masyarakat, khususnya di Bone Bolango.
Namun, ia mengingatkan bahwa kekayaan tersebut harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur yang memadai. Salah satu persoalan mendasar yang hingga kini masih dihadapi masyarakat adalah keterbatasan akses jalan menuju Kecamatan Pinogu.
“Kalau kita bicara Gorontalo sebagai Daerah Istimewa, maka pembangunan infrastrukturnya juga harus istimewa. Akses ke Pinogu memang membutuhkan perjalanan panjang, tapi kalau semua pemangku kepentingan sepakat dan bersama-sama, jalan itu harus jadi,” tegasnya.
Poken menilai, pembangunan jalan ke Pinogu bukan hanya soal membuka keterisolasian wilayah, tetapi juga menjadi wujud kehadiran negara serta keadilan pembangunan bagi masyarakat pedalaman.
Ia juga menyoroti kehadiran perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Gorontalo, khususnya di sektor pertambangan. Menurutnya, investasi harus memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat lokal.
“Perusahaan boleh masuk, tambang boleh dikelola, tapi masyarakat Gorontalo harus menjadi penerima manfaat utama. Dengan sejarah Hari Patriotik 23 Januari 1942, adat yang kuat, dan kekayaan alam yang besar, Gorontalo sangat layak diperjuangkan sebagai Daerah Istimewa,” pungkas Poken. (*)