Gorontalo – Sejumlah pemberitaan terkait Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menuai tanggapan dari kalangan alumni. Salah satunya disampaikan Abd. Rajik Polapa yang menilai sejumlah informasi yang dimuat media terkesan tendensius dan paradoks.
Menurut Rajik, pemberitaan tersebut disebut tendensius karena fakta yang disajikan dinilai tidak terverifikasi secara utuh. Sementara itu, ia menyebut paradoks karena isu-isu yang berkembang justru datang dari oknum internal kampus yang dinilai berpotensi merusak citra institusi sendiri.
Ia menyoroti komentar Rektor Senior UNG, Syamsu Qamar Badu, terkait tata kelola kampus. Rajik menilai, sebagai sosok yang pernah memimpin UNG selama dua periode, semestinya SQB lebih bijak dalam menyikapi dinamika yang berkembang.
“Setiap kepemimpinan tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Termasuk saat beliau memimpin UNG. Namun saat ini juga terdapat perbedaan signifikan dengan kepemimpinan Rektor Eduart Wolok,” ujarnya.
Rajik juga mengungkapkan bahwa pada momentum dies natalis beberapa waktu lalu, Prof. Eduart secara resmi mengundang para rektor senior untuk berdiskusi mengenai kemajuan UNG. Namun, menurutnya, pertemuan tersebut hanya dihadiri dua rektor senior, yakni Nani Tuloli dan Nelson Pomalingo.
Sebagai alumni, Rajik menilai UNG saat ini menunjukkan perkembangan signifikan di berbagai aspek. Dari sisi akademik, UNG disebut telah memiliki 25 program studi terakreditasi Unggul, serta lima program studi terakreditasi internasional oleh Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA), masing-masing empat prodi di Fakultas MIPA dan satu prodi di Fakultas Sastra dan Budaya.
Di bidang publikasi ilmiah, UNG juga disebut memiliki dua jurnal internasional terindeks Scopus serta puluhan jurnal nasional terakreditasi SINTA peringkat 2 hingga 4.
Terkait isu remunerasi yang kembali mencuat, Rajik menilai persoalan tersebut seharusnya tidak terus-menerus disampaikan ke ruang publik. Ia menyebut pembahasan mengenai remunerasi telah dilakukan secara terbuka dalam forum “Ngopi Bareng Rektor” bersama civitas akademika.
Menurutnya, Rektor Eduart Wolok selama ini terbuka terhadap kritik dan tidak membatasi ruang komunikasi dengan dosen maupun sivitas akademika, terutama dalam membahas kemajuan kampus ke depan.
Rajik menegaskan bahwa persoalan internal kampus sebaiknya diselesaikan secara internal tanpa perlu diumbar ke publik, terlebih jika data yang digunakan dinilai kurang akurat dan relevan.
Ia juga menanggapi komentar Mansir Mundeg yang turut menyoroti UNG. Menurut Rajik, yang bersangkutan bukan bagian dari dosen, mahasiswa, maupun alumni UNG sehingga pemahamannya mengenai kondisi internal kampus dinilai terbatas.
“Sebagai alumni, kami tentu berharap seluruh pihak dapat menjaga marwah dan nama baik institusi,” pungkasnya. (*)