Go-Pena Baner

Wednesday, 15 April, 2026

Pasundan di Tanah Hulonthalo : Rindu Kampung Halaman Terobati dalam Halal Bihalal Gorontalo di Rumah Dinas Wagub

Responsive image
Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah RH yang juga sebagai Pembina Paguyuban Pasundan Gorontalo, foto bersama dengan warga Pasundan di Gorontalo. Selasa (14/04/2026).

GORONTALO — Aroma khas masakan Sunda langsung menyambut setiap tamu yang melangkah masuk ke halaman Rumah Dinas Wakil Gubernur Gorontalo, Selasa malam (14/04/2026). Di bawah lampu-lampu temaram, suasana terasa hidup—ramai, hangat, dan penuh warna—seperti sebuah pasar malam yang memadukan rasa, budaya, dan kerinduan akan kampung halaman.
Di sudut-sudut halaman, aneka hidangan khas Pasundan tersaji: mulai dari ubi Cilembu yang manis, siomay hangat, surabi, bandros, hingga cireng dan olahan jengkol. Meja-meja sederhana berubah menjadi etalase rasa, hasil gotong royong ibu-ibu dan pelaku UMKM Pasundan yang dengan penuh semangat membawa hidangan terbaik mereka.
Di tengah suasana itu, Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie berdiri menyapa satu per satu warga yang hadir. Sebagai pembina Paguyuban Pasundan, ia tak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga bagian dari cerita yang terjalin malam itu.
“Ini bukan sekadar makan bersama, ini tentang kebersamaan,” ucap Idah dalam sambutannya. Nada suaranya hangat, menyatu dengan suasana yang cair tanpa sekat.
Ia bercerita, kegiatan ini bermula dari pertemuan sederhana bersama tokoh-tokoh Pasundan di Gorontalo. Dari sekitar 30 orang yang hadir, lahirlah gagasan untuk menggelar halal bihalal. Sebuah grup WhatsApp pun dibuat, panitia dibentuk, dan perlahan satu per satu potongan acara dirangkai hingga akhirnya menjadi perhelatan yang meriah.
“Awalnya sederhana, tapi karena kebersamaan, jadinya luar biasa seperti malam ini,” katanya.
Malam itu, bukan hanya makanan yang menjadi daya tarik. Tawa dan sapaan dalam bahasa Sunda terdengar di berbagai penjuru. “Mangga”, “punten”, dan “hatur nuhun” mengalir begitu saja, seolah menghapus jarak antara Gorontalo dan tanah Pasundan.
Idah pun sempat mengundang senyum hadirin saat menceritakan latar belakang dirinya.
“Saya ini Jawa-Sunda. Jadi bisa bilang ‘monggo’ dan ‘mangga’. Kadieu, monggo… semua jadi satu,” ujarnya ringan.
Kehangatan itu semakin terasa dengan kehadiran sejumlah tokoh penting, di antaranya Kapolda Gorontalo Widodo dan Kajati Gorontalo Riyono, yang turut membaur bersama warga tanpa sekat formalitas.
Di sisi lain halaman, alunan musik tradisional dan penampilan tari jaipongan dari para generasi muda menambah semarak suasana. Anak-anak berlarian, orang tua berbincang santai, sementara yang lain sibuk mencicipi satu per satu hidangan yang tersedia.
Tak ada jarak, tak ada protokoler yang kaku. Yang ada hanyalah rasa memiliki—bahwa di tanah rantau, mereka tetap bisa merasakan rumah.
“Ini baru pertama kali kita adakan, dan Alhamdulillah sangat meriah. Semoga ke depan bisa terus berlanjut,” tutur Idah penuh harap.
Menjelang akhir acara, ia kembali menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga, pelaku UMKM, dan panitia yang telah berkontribusi. Dengan nada tulus, ia juga memohon maaf atas segala kekurangan.
Malam itu, Halal Bihalal Pasundan di Gorontalo bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjelma menjadi ruang temu—tempat rasa, budaya, dan kebersamaan dirayakan dalam satu harmoni yang sederhana, namun begitu bermakna. (*)


Share