PEMPROV - Pemerintah Provinsi Gorontalo dibawah komando Gusnar Ismail dan Idah Syahidah kembali menorehkan prestasi, ini juga bisa dikatakan sebagai kado istimewa untuk masyarakat Gorontalo jelang HUT RI Ke 81.
Rilis BPS 05 Agustus 2026 menunjukan peningkatan capaian beberapa indikator penting sebagai tolok ukur kinerja pembangunan di Gorontalo.
Untuk kesekian kali rilis BPS, Indeks Nilai Tukar Petani stabil meningkat hingga angka 121,85. Ini menunjukkan bahwa sektor pertanian sebagai salah satu program unggulan Gubernur Gusnar Ismail dan Wagub Idah Syahidah bukan hanya sebagai penggerak ekonomi saja, tapi juga dinikmati oleh masyarakat petani yang menikmati peningkatan nilai atas pendapatan disektor pertanian tersebut.
Indikator utama lainnya yang selalu menjadi parameter menarik yaitu Kemiskinan. Angka kemiskinan juga stabil mengalami perbaikan dengan penurunan kemiskinan hingga diangka 12,16% terhitung maret 2026 dibanding september 2025 pada angka 12,62%.
Artinya dalam kurun waktu 6 bulan terjadi capaian penurunan angka kemiskinan hingga lebih dari 5.000 orang di Gorontalo. Yang lebih menarik lagi adalah anomali penurunan jumlah penduduk kemiskinan walaupun terjadi peningkatan angka rata-rata garis kemiskinan.
Sehingga bisa diasumsikan akan lebih besar lagi penurunan jumlah penduduk miskin jika garis kemiskinan tidak mengalami kenaikan.
“Bahkan terkait dengan fenomena stabilnya penurunan angka kemiskinan ini, juga dibarengi dengan penurunan jumlah penduduk miskin ekstrem yang makin mendekati gariskemiskinan. Fenomena inilah yang senantiasa dianalisa dan dicermati dengan baik untuk diintervensi oleh program yang fokus, tepat dan terukur ditengah keterbatasan anggaran. Tentunya banyak hal yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dan pemangku kepentingan ekonomi lainnya yang terus kita sinergikan. Optimalisasi intervensi usaha ekonomi skala kecil, tumbuhnya sektor jasa perdagangan serta beberapa bentuk hilirisasi walaupun dalam jumlah yang masih terbatas diasumsikan mendukung capaian ini”. Ungkap Kepala Bappeda Dr Wahyudin Katili saat diminta penjelasannya, Jum’at (07/08/2026). (*)