LUWUK, Go-Pena.id – Guru Besar Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I, menegaskan pentingnya memperkuat kemitraan antara pendidikan nonformal dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) sebagai langkah strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang kompeten dan siap menghadapi tantangan dunia kerja.
Hal tersebut disampaikan Prof. Novianty dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk "Kemitraan Pendidikan Nonformal-DUDI" yang digelar di Aula Banggai Luwuk pada 3–4 Juli 2026. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa, dosen, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai upaya membangun sinergi dalam pengembangan pendidikan nonformal.
Dalam pemaparannya, Prof. Novianty menjelaskan bahwa pendidikan nonformal merupakan kolaborasi strategis antara satuan pendidikan seperti PKBM, LKP, maupun LPK dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Tujuannya adalah memperluas akses pendidikan, meningkatkan keterampilan kerja, serta memberdayakan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya yang saling menguntungkan.
Ia menekankan bahwa kemitraan dengan DUDI harus diwujudkan melalui konsep link and match, yakni penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri. Bentuk kerja sama tersebut meliputi program magang, penyediaan instruktur dari kalangan praktisi, sertifikasi kompetensi, hingga penyaluran lulusan ke dunia kerja.
"Kolaborasi ini bertujuan mencetak lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja, sehingga mampu bersaing dan langsung terserap di dunia industri," paparnya.
Lebih lanjut, Prof. Novianty menguraikan sejumlah strategi membangun sinergi dengan dunia industri, antara lain sinkronisasi kurikulum bersama pelaku usaha, penyelenggaraan program magang dan guru tamu, penerbitan sertifikasi kompetensi yang diakui bersama, hingga pembentukan pusat karier (job placement) untuk mempermudah penyaluran lulusan ke perusahaan mitra.
Menurutnya, pendidikan nonformal juga memiliki peran yang semakin penting di era digital. Fleksibilitas pembelajaran serta pemanfaatan teknologi menjadikan pendidikan nonformal mampu menjangkau masyarakat yang belum terlayani pendidikan formal sekaligus meningkatkan keterampilan praktis yang dibutuhkan dunia kerja.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat berbagai tantangan, seperti kesenjangan akses internet, rendahnya literasi digital, keterbatasan pendanaan, hingga lemahnya koordinasi antarpemangku kepentingan. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat agar pendidikan nonformal dapat berkembang secara berkelanjutan.
Sebagai solusi, Prof. Novianty mendorong penguatan infrastruktur digital, peningkatan literasi digital masyarakat, kemitraan publik-swasta, serta pemberdayaan komunitas lokal dalam setiap program pendidikan nonformal. Langkah tersebut dinilai mampu menjadikan pendidikan nonformal sebagai instrumen penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kompetensi.
Ia menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa pendidikan nonformal merupakan solusi strategis untuk menciptakan pendidikan yang inklusif, fleksibel, dan relevan dengan perkembangan zaman. Melalui pemanfaatan teknologi, kemitraan lintas sektor, serta penguatan sistem sertifikasi, pendidikan nonformal diyakini dapat menjadi katalis perubahan sosial dan ekonomi bagi masyarakat Indonesia. (*)