Go-Pena Baner

Monday, 14 September, 2026

Bawakan Materi di Seminar Nasional, Prof. Novianty: Pendidikan Harus Bertransformasi, Kepemimpinan Adaptif dan Kolaborasi Jadi Kunci Organisasi Masa Depan

Responsive image
Guru besar Fakultas Ilmu Pendidikan, UNG, Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I memberikan materi di kegiatan Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat. Sabtu (12/09/2026).

GORONTALO – Dunia pendidikan dituntut tidak lagi berjalan dengan pola lama di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat. Sekolah dan perguruan tinggi harus mampu beradaptasi, melakukan transformasi digital, serta membangun kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan organisasi pendidikan yang tangguh dan berkelanjutan.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok pemikiran Prof. Dr. Novianty Djafri, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat yang mengangkat tema “Membangun Organisasi Masa Depan melalui Inovasi Kepemimpinan Adaptif, Transformasi Digital dan Kolaborasi untuk Dampak Keberlanjutan (Sekolah & Perguruan Tinggi)”, Sabtu (12/9/2026).

Dalam materinya, Prof. Novianty menekankan bahwa perubahan teknologi dan ketidakpastian lingkungan telah membawa tantangan baru bagi institusi pendidikan. Kurikulum yang tertinggal dari dinamika industri, perkembangan kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, serta tuntutan kompetensi terkait isu lingkungan dan sosial menjadi alasan kuat bagi sekolah dan perguruan tinggi untuk segera bertransformasi.

Menurutnya, organisasi pendidikan masa depan tidak ditentukan oleh seberapa besar institusi tersebut, tetapi oleh seberapa cepat mampu belajar dan beradaptasi.

Konsep tersebut kemudian dijabarkan melalui tiga pilar utama, yakni kepemimpinan adaptif, transformasi digital, dan kolaborasi berkelanjutan. Ketiga pilar ini menjadi kerangka penting dalam membangun organisasi pendidikan yang mampu menghadapi perubahan zaman.

Pada aspek kepemimpinan, Prof. Novianty menjelaskan bahwa pemimpin adaptif merupakan sosok yang mampu belajar, menyesuaikan diri dan tetap tangguh menghadapi krisis. Pemimpin juga dituntut terbuka terhadap masukan, berani mengambil risiko secara terukur dan memiliki empati.

Ia menilai, kepala sekolah maupun rektor di masa depan tidak cukup hanya berperan sebagai atasan atau pengambil keputusan, tetapi harus mampu menjadi fasilitator perubahan. Salah satu bentuk penerapannya adalah mendelegasikan kewenangan sehingga keputusan dapat diambil lebih cepat dan responsif.

Transformasi Digital Bukan Sekadar Membeli Teknologi

Prof. Novianty juga mengingatkan bahwa transformasi digital di sekolah dan perguruan tinggi tidak boleh dimaknai sebatas membeli perangkat teknologi atau memperbanyak komputer.

Yang jauh lebih penting, kata dia, adalah membangun budaya digital dengan mengubah pola pikir sumber daya manusia serta cara kerja organisasi.

Ia mendorong institusi pendidikan mengintegrasikan Learning Management System (LMS), pemanfaatan data berbasis awan, serta menerapkan pengambilan kebijakan berdasarkan data riil capaian peserta didik.

“Transformasi digital gagal jika orang-orangnya tidak mengubah cara kerjanya,” menjadi salah satu pesan utama dalam materi tersebut.

Pendidikan Tak Bisa Berdiri Sendiri

Pilar ketiga yang ditekankan adalah kolaborasi berkelanjutan. Prof. Novianty mendorong institusi pendidikan membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak melalui prinsip Pentahelix, yang melibatkan akademisi, dunia bisnis, komunitas, pemerintah dan media.

Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui program magang industri, riset bersama maupun pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pendekatan kolaboratif penting agar program pendidikan tidak hanya menghasilkan manfaat bagi internal sekolah dan kampus, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs.

Untuk tingkat sekolah, ia mendorong pemanfaatan fleksibilitas kurikulum untuk inovasi lokal, penerapan Project-Based Learning yang berorientasi pada pemecahan masalah nyata di sekitar siswa, serta pengenalan literasi, etika dan keamanan digital sejak dini.

Sementara di perguruan tinggi, transformasi dapat diperkuat melalui program pembelajaran di luar program studi, pusat inovasi sebagai wadah riset dan inkubasi bisnis mahasiswa, serta penerapan konsep green campus dengan memasukkan nilai keberlanjutan dalam berbagai bidang ilmu.

Butuh Sinergi Semua Pihak

Prof. Novianty juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada para pemangku kepentingan. Bagi sekolah dan kampus, ia mendorong peningkatan kompetensi digital guru dan dosen, pengurangan birokrasi yang menghambat inovasi serta evaluasi berkala terhadap efektivitas teknologi yang digunakan.

Pemerintah juga didorong menghadirkan kebijakan yang lebih fleksibel, memastikan pemerataan akses internet dan listrik, khususnya di daerah 3T, serta memasukkan indikator adaptabilitas dan digitalisasi dalam standar mutu pendidikan.

Sementara industri dan komunitas diharapkan tidak hanya menjadi pengguna lulusan, tetapi ikut terlibat dalam penyusunan kurikulum, mendukung pendanaan riset yang berdampak sosial dan menyediakan ruang magang berkualitas.

Tak kalah penting, orang tua dan komite sekolah juga memiliki peran besar melalui dukungan pola asuh yang selaras dengan budaya digital positif, komunikasi dua arah dengan sekolah serta gotong royong mendukung program inovasi pendidikan.

Menutup materinya, Prof. Novianty menegaskan bahwa teknologi hanyalah akselerator, sementara manusia dan kepemimpinan tetap menjadi kunci utama. Dampak pendidikan yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi erat seluruh pihak.

Ia juga menawarkan langkah bertahap, mulai dari audit kapasitas digital dan kultur kepemimpinan pada bulan pertama hingga ketiga, pembentukan tim lintas fungsi untuk merancang pilot project pada bulan keempat hingga keenam, kemudian evaluasi, replikasi dan perluasan jejaring kemitraan mulai bulan ketujuh.

Pesan besarnya jelas: masa depan pendidikan tidak cukup ditunggu, tetapi harus diciptakan melalui keberanian untuk berubah, kepemimpinan yang adaptif, pemanfaatan teknologi secara tepat, dan kolaborasi yang berkelanjutan. (*)


Share