Go-Pena Baner

Sunday, 09 August, 2026

Dukung Pencegahan Komplikasi Penyakit Tidak Menular, Poltekkes Kemenkes Gorontalo Latih Kader Dembe Jaya Terapi AIUEO

Responsive image
Foto bersama tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Gorontalo dengan pemerintah kelurahan Dembe Jaya, Kota Gorontalo.

GORONTALO - Poltekkes Kemenkes Gorontalo terus mendorong peningkatan peran masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan penyakit tidak menular (PTM) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Dembe Jaya Kota Gorontalo. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mendampingi pasien stroke yang merupakan salah satu dari jenis penyakit tidak menular.

Kegiatan yang merupakan bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi ini dibuka secara resmi oleh Lurah Dembe Jaya yang diwakili oleh Kasi Pemerintahan Kelurahan Dembe Jaya. Dalam sambutannya, perwakilan pemerintah kelurahan menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kami berharap keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dan diteruskan kepada masyarakat, sehingga semakin banyak keluarga yang memiliki pemahaman dalam mendukung proses pemulihan pasien stroke,” ujar perwakilan Lurah Dembe Jaya.

Kegiatan tidak hanya diikuti oleh kader kesehatan, tetapi juga dihadiri oleh masyarakat yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat atau sedang mengalami stroke. Kehadiran keluarga pasien menjadi bagian penting dalam kegiatan karena proses pemulihan stroke membutuhkan dukungan dan pendampingan yang berkelanjutan di lingkungan keluarga.

Ketua tim pengabdian kepada masyarakat, Lusiane Adam, S.Kep., M.Kes., menjelaskan bahwa pelatihan terapi vokal AIUEO diberikan untuk membekali kader dengan keterampilan sederhana yang dapat digunakan dalam mendampingi pasien stroke, khususnya pasien yang mengalami gangguan bicara.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin kader tidak hanya mengetahui tentang stroke, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat dipraktikkan ketika mendampingi pasien dan keluarga. Kader diharapkan mampu memberikan contoh latihan secara sederhana dan membantu memotivasi pasien untuk berlatih sesuai dengan kemampuan dan kondisinya,” ujar Lusiane.

Dalam pelatihan, peserta mendapatkan penjelasan mengenai gangguan bicara yang dapat dialami pasien setelah stroke serta pentingnya latihan dan dukungan keluarga. Selanjutnya, tim memberikan demonstrasi terapi vokal AIUEO yang dilakukan melalui pengucapan huruf A, I, U, E, dan O secara berulang dengan memperhatikan gerakan dan posisi mulut. Kader diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung teknik yang telah diajarkan dan diberikan pendampingan serta koreksi selama praktik sehingga kader dapat memahami cara melakukan latihan dengan lebih tepat. Suasana pelatihan berlangsung interaktif. 

Menurut Lusiane, keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu kader memberikan pendampingan dasar kepada pasien dan keluarga di lingkungan tempat tinggal karena kader merupakan orang terdekat dengan masyarakat dan keluarga. Namun, pelaksanaan latihan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan pasien. Apabila pasien mengalami kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, keluarga tetap diarahkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Selain pelatihan terapi vokal, kegiatan juga diisi dengan edukasi mengenai stroke dan faktor risiko penyakit tidak menular (PTM). Peserta diajak memahami bahwa stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang perlu dicegah melalui pengendalian faktor risiko dan penerapan perilaku hidup sehat.

Sebagai bagian dari pemberdayaan kader, tim pengabdian kepada masyarakat juga menyerahkan bantuan alat kesehatan berupa tensimeter digital dan glukometer multifungsi yang mudah digunakan untuk membantu pemantauan faktor risiko penyakit tidak menular.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dari Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo, yang diketuai oleh Lusiane Adam, S.Kep, M.Kes dengan anggota tim terdiri atas dua dosen yakni Ahmad Aswad, S.Kep., Ns., MPH dan Ruliyani Manumba, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Jiwa, serta tiga mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Jurusan Keperawatan. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini adalah sebagai bentuk penerapan pengetahuan dan keterampilan keperawatan secara langsung di masyarakat.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, kader, keluarga pasien, dan masyarakat diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga edukasi kesehatan dan keterampilan yang diberikan tidak berhenti pada saat pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Share