Fenomena menarik sedang terjadi di dunia politik Gorontalo. Di tengah dinamika politik yang sering dipenuhi ketegangan dan perdebatan serius, justru suasana santai dan penuh canda menjadi daya tarik tersendiri di tubuh Partai Gerakan Indonesia Raya atau GERINDRA.
Hal itu diungkapkan langsung oleh Juru Bicara GERINDRA Gorontalo, Wahidin Ishak, yang menanggapi meningkatnya minat sejumlah tokoh masyarakat untuk bergabung dengan partai berlambang kepala garuda tersebut.
Dengan gaya khasnya yang ringan dan penuh humor, Wahidin menyebut bahwa mungkin salah satu alasan GERINDRA semakin diminati karena suasana internal partai yang dipenuhi orang-orang bahagia.
“Mungkin karena di GERINDRA banyak orang yang bahagia dan suka tersenyum, apa pun yang terjadi. Jadi, GERINDRA menarik… hehe,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Menurutnya, GERINDRA bukan sekadar kendaraan politik, tetapi juga rumah bagi orang-orang yang mampu menghadirkan energi positif di tengah masyarakat.
Ia bahkan berseloroh bahwa orang yang terlalu serius mungkin akan kesulitan beradaptasi di GERINDRA.
“Kalau orang hidupnya terlalu serius, mungkin tidak cocok masuk GERINDRA. Parpol ini dikhususkan untuk orang yang suka becanda sejak kecil,” candanya.
Candaan itu tentu mengundang tawa. Namun di balik humor tersebut, tersimpan filosofi sederhana tentang politik yang membahagiakan rakyat.
Wahidin menyebut ada “syarat tak tertulis” bagi siapa pun yang ingin bergabung dengan GERINDRA.
“Kalau dia susah bikin satu orang tertawa, bagaimana dia bisa bikin seluruh rakyat tertawa?” tukasnya.
Pernyataan itu menjadi simbol bahwa politik menurut GERINDRA tidak hanya soal kekuasaan, strategi, atau perebutan kursi, tetapi juga soal menghadirkan harapan, kenyamanan, dan senyum di tengah masyarakat.
Di balik suasana santai itu, GERINDRA tetap membawa misi yang serius, yakni memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil.
“Target kami? Supaya wong cilik iso gumuyu. Artinya, supaya rakyat kecil bisa tersenyum dan puas,” jelas Wahidin.
Meningkatnya minat tokoh masyarakat untuk bergabung ke GERINDRA di Gorontalo juga diakui menjadi tantangan tersendiri bagi partai tersebut. Banyaknya figur yang ingin ikut berkontribusi membuat ruang kepengurusan menjadi semakin terbatas.
“Yang bikin kami pusing, banyak tokoh ingin masuk GERINDRA, padahal yang bisa jadi pengurus jumlahnya terbatas,” ungkapnya.
Meski demikian, Wahidin menegaskan bahwa GERINDRA tetap menjadi partai yang terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang.
“Catat baik-baik, GERINDRA itu sangat terbuka. Ulangi, sangat terbuka bagi siapa pun,” tutupnya.
Di tengah iklim politik yang sering terasa panas dan penuh ketegangan, pendekatan santai ala GERINDRA Gorontalo ini menjadi warna tersendiri. Sebab terkadang, senyum dan tawa justru menjadi bahasa politik yang paling mudah diterima rakyat.