Limboto, gopena.id — Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Gorontalo menegaskan komitmennya dalam menanggulangi dampak bencana kekeringan yang mulai melanda sejumlah wilayah di Provinsi Gorontalo. Langkah konkrit dilakukan mulai dari penyiagaan Posko Bencana 24 jam, pengoperasian armada tangki air bersih setiap hari, hingga langkah strategis pengamanan pasokan air irigasi pertanian.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BWS Sulawesi II Gorontalo, Ali Rahmat, saat ditemui di Posko Bencana Kantor BWS Sulawesi II Gorontalo, Jumat (31/7/2026).
Ali Rahmat mengapresiasi peran insan pers yang terus memantau dan mengawal isu kekeringan di daerah. Ia menjelaskan bahwa BWS Sulawesi II menerapkan prinsip CTE (Cari, Temukan, dan Eksekusi) sesuai arahan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR dalam merespons setiap laporan warga.
"Sampai saat ini, dari 20 lokasi yang kami indikasikan dan tangani melalui prinsip CTE, kami telah menyalurkan sebanyak 59.000 liter air bersih. Pasokan ini telah membantu sekitar 575 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak kekeringan di pemukiman," ujar Ali Rahmat.
Penanganan air bersih tersebut tersebar di beberapa wilayah titik kritis seperti Kabupaten Gorontalo (termasuk Desa Mootilango, Ombulodata, dan Motinelo), Kabupaten Gorontalo Utara (Desa Botuwombato), Kabupaten Pohuwato, hingga beberapa desa di Kabupaten Bone Bolango.
Untuk memastikan penanganan berjalan responsif, BWS Sulawesi II menyiagakan Posko Bencana yang beroperasi penuh 24 jam serta membuka saluran komunikasi cepat bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan air bersih.
Masyarakat dapat menyampaikan laporan atau permohonan bantuan air bersih via WhatsApp ke nomor 08219064641.
Guna memperluas jangkauan distribusi air yang dilakukan setiap hari sejak sepekan terakhir, BWS Sulawesi II mengoptimalkan kolaborasi antarinstansi. Dari yang semula hanya mengandalkan 1 unit mobil tangki internal, kini BWS menambah 2 unit tangki tambahan hasil pinjaman dari Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW/BPPK).
"Hari ini kita sudah bisa memberangkatkan 3 unit mobil tangki air ke lokasi terdampak di Kabupaten Gorontalo dan Gorontalo Utara. Kapasitas satu tangki berkisar 4.000 hingga 5.000 liter, dan bisa melakukan pengiriman hingga tiga kali putaran ke satu desa sesuai jumlah KK yang membutuhkan," jelas Ali.
Ia memaklumi armada yang ada masih terbatas jika dibandingkan dengan luas wilayah terdampak. Oleh karena itu, BWS terus berkoordinasi ketat dengan BPBD Provinsi/Kabupaten, PDAM, PMI, serta unsur dinas PU agar penyaluran air bersih terbagi rata dan tidak tumpang tindih.
Selain pemukiman warga, BWS Sulawesi II juga menaruh perhatian besar pada lahan pertanian sawah yang berpotensi gagal panen akibat penurunan debit air irigasi.
Petugas Lapangan (KDP dan UPI) telah dikerahkan untuk mendata serta mengatur pembagian pintu-pintu air pada bangunan sumber daya air setempat. Meski mayoritas penyuplai utama seperti Bendung Lomaya dan Bendung Alale masih berada di batas aman, pemantauan ketat mulai dilakukan pada Bendung Alopohu yang terindikasi mengalami penurunan debit.
Sebagai langkah jangka panjang dan antisipasi kekeringan parah, BWS tengah menyiapkan program strategis berupa rehabilitasi jaringan irigasi dan pemanfaatan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) melalui instruksi Presiden (Inpres).
"Mudah-mudahan program Inpres jaringan irigasi air tanah ini bisa segera kita realisasikan di bulan Agustus ini. Hampir seluruh kabupaten di Gorontalo dialokasikan mendapatkan program ini agar para petani tetap bisa mengolah lahannya secara berkelanjutan," tutup Ali Rahmat. (Fikri)