Go-Pena Baner

Sunday, 16 August, 2026

Semangat “Torang Bekeng Bae” Dibawa Pramuka Kota Gorontalo ke Cibubur

Responsive image
Semangat peserta Jamnas dari Kota Gorontalo.

CIBUBUR — Dari Gorontalo ke Cibubur, jarak ribuan kilometer tidak mengubah satu hal: semangat untuk bekeng bae. 

Di tengah gegap gempita Jambore Nasional (Jamnas) XII Gerakan Pramuka Tahun 2026, semangat “Torang Bekeng Bae” yang dirintis Wali Kota Gorontalo, H. Adhan Dambea, kini menemukan ruang untuk bergema di tingkat nasional. 

Jamnas XII resmi dibuka pada Jumat, 14 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Pramuka ke-65, di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur. Kegiatan berlangsung hingga 20 Agustus 2026 dan diikuti lebih dari 21.000 Pramuka Penggalang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk kontingen internasional. 

Pembukaan yang dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir bersama Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Budi Waseso menjadi penanda dimulainya sebuah perjumpaan besar anak-anak Indonesia dalam suasana persaudaraan, keterampilan, kreativitas dan pendidikan karakter. 

Di antara ribuan peserta itu, Kontingen Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo hadir membawa identitas daerah sekaligus semangat yang sedang dibangun dalam kehidupan pendidikan Kota Gorontalo. 

Kontingen tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Gorontalo, Kak Husin Ali. 

Para Pramuka Penggalang Kota Gorontalo ditempatkan di Camp 2 Putera dan Camp 2 Puteri di kawasan Buperta Cibubur. Jarak antara camp putera dan puteri yang mencapai sekitar 4 kilometer ternyata tidak menjadi persoalan bagi para peserta. 

Justru di situlah karakter diuji. 

“Semua ini sudah terbiasa di kami, karena kami sudah dilatih selama di Gorontalo. Latihan itu sempat disaksikan langsung Pak Wali Kota selaku Kamabicab Kota Gorontalo,” ujar Mohamad Hairil Ahdan Malaranggeng, ketika bersama kawan-kawannya berinisiatif melakukan aktivitas setelah mengikuti upacara pembukaan Jamnas. 

Kalimat sederhana seorang anak Pramuka itu menyimpan makna yang jauh lebih besar. Sebab, karakter bukan pertama-tama sesuatu yang diajarkan melalui kata-kata, tetapi sesuatu yang dibentuk melalui kebiasaan dan pengalaman yang berulang. 

Anak yang terbiasa berjalan jauh, terbiasa bekerja sama, terbiasa menyelesaikan persoalan sendiri, terbiasa hidup dalam keterbatasan dan terbiasa bertanggung jawab, pada akhirnya membawa kebiasaan itu ke mana pun ia pergi. 

Dan Cibubur menjadi ruang pembuktiannya. Bukan Sekadar Jarak, Tetapi Pengalaman.  Jarak sekitar empat kilometer antara camp putera dan puteri mungkin tampak sederhana bagi orang dewasa. Tetapi bagi anak-anak usia Penggalang, jarak itu menjadi pengalaman sosial yang membentuk. 

Mereka belajar mengatur tenaga, membaca situasi, saling menunggu, membantu teman, beradaptasi dengan lingkungan baru dan tetap mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. 

Itulah pendidikan karakter dalam bentuk yang paling nyata: dialami, bukan sekadar diceramahkan. Jamnas XII sendiri membawa tema: “Berkreasi, Berinovasi, Terampil, dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan.” 

Berbagai kegiatan telah disiapkan panitia nasional, mulai dari pengembangan wawasan, keterampilan kepramukaan, kreativitas, kepemimpinan, kebinekaan hingga pengenalan materi kepramukaan berbasis digital. 

Ribuan peserta juga menyuguhkan atraksi kolosal menggunakan tongkat Pramuka dalam pembukaan, memperlihatkan bahwa tradisi kepramukaan dapat tetap hidup sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman. 

Bagi kontingen Kota Gorontalo, semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses yang sudah dibangun sejak dari daerah. Dari “Torang Bekeng Bae” Menjadi Etos.  Semangat “Torang Bekeng Bae” yang digaungkan Wali Kota Gorontalo H. Adhan Dambea sesungguhnya memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar slogan. 

Ia sedang diarahkan menjadi etos kehidupan masyarakat. Bekeng bae berarti bekerja dengan sungguh-sungguh. Bekeng bae berarti tidak cepat menyerah. Bekeng bae berarti ketika ada masalah, kita tidak hanya bertanya siapa yang salah, tetapi apa yang bisa kita lakukan agar keadaan menjadi lebih baik. Dan yang paling penting, torang berarti bersama. 

Ada dimensi kolektif di dalamnya. Dalam tradisi masyarakat Gorontalo, kebersamaan bukan sekadar konsep sosial. Ia hidup dalam praktik saling membantu, saling menopang dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.  

Karena itu, ketika anak-anak Gorontalo berjalan, berkemah, mengikuti kegiatan dan berinteraksi dengan ribuan Pramuka dari seluruh Indonesia di Cibubur, sesungguhnya mereka sedang membawa sebagian kecil dari karakter masyarakatnya. Mereka membawa Gorontalo dalam dirinya. 

Perkembangan Kontingen Kwarcab Kota Gorontalo selama mengikuti Jamnas XII juga telah dilaporkan langsung oleh Kak Husin Ali kepada Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Gorontalo. Laporan tersebut menjadi bagian dari koordinasi sekaligus memastikan seluruh rangkaian kegiatan kontingen dapat berjalan dengan baik. 

Kak Husin Ali menegaskan bahwa kehadiran kontingen Kota Gorontalo tidak semata-mata mengejar pencapaian kegiatan, tetapi juga membawa nama baik daerah dan menunjukkan hasil pembinaan yang selama ini dilakukan di Kota Gorontalo. Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan kepramukaan bukan hanya ketika seorang anak memperoleh penghargaan. 

Ukuran sesungguhnya adalah ketika anak mampu berdiri sendiri, mampu bekerja bersama, mampu menghargai orang lain dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.  

Cibubur dan Sebuah Cerita dari Gorontalo  

Cibubur hari ini mempertemukan ribuan cerita. Ada anak dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan berbagai penjuru Indonesia. Ada pula peserta dari negara-negara sahabat seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Timor-Leste. 

Di tengah keberagaman itu, anak-anak Gorontalo mempunyai cerita sendiri. Cerita tentang latihan. Cerita tentang kebersamaan. Cerita tentang jarak. Cerita tentang keberanian meninggalkan rumah. Dan cerita tentang sebuah kalimat sederhana yang sedang ditanamkan menjadi kebiasaan: Torang Bekeng Bae. 

Inilah yang menarik dari sebuah jambore. Ia bukan hanya perkemahan. Ia adalah ruang perjumpaan budaya. Anak-anak belajar bahwa Indonesia begitu luas, tetapi perbedaan tidak harus menjadi jarak. Mereka bertemu, bekerja bersama, berbagi pengalaman dan menemukan bahwa setiap daerah memiliki kekayaan karakter masing-masing. 

Di ruang itulah identitas lokal tidak hilang. Justru semakin terlihat. Gorontalo datang ke Cibubur bukan untuk menjadi daerah lain. Gorontalo datang sebagai Gorontalo. 

Dengan budaya, karakter, semangat dan kebanggaannya. Dan di antara ribuan tenda yang berdiri di Buperta Cibubur, satu pesan dari Kota Gorontalo kini ikut menemukan gema: “Torang Bekeng Bae.” 

Dari Gorontalo, bergema di Cibubur. Dari Cibubur, membawa semangat untuk Indonesia. (*) 


Share