Go-Pena Baner

Wednesday, 11 February, 2026

Prof. Suleman Bouti Tekankan Ortografi sebagai Arena Sosial Bahasa Minoritas

Responsive image
Prof.Dr. Suleman Bouti saat menyampaikan orasi ilmiah. (Foto : Ismet)

Gorontalo – Suleman Bouti menegaskan bahwa ortografi tidak dapat dipahami semata sebagai sistem teknis penulisan bahasa, melainkan sebagai arena sosial yang sarat dengan relasi kekuasaan, identitas, dan legitimasi penuturnya. Hal tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar Bidang Sosiolinguistik Ortografi di Universitas Negeri Gorontalo.

Dalam orasi berjudul “Ortografi dalam Masyarakat Tutur Minoritas”, Prof. Suleman menjelaskan bahwa sistem tulisan sering kali menjadi penentu siapa yang dianggap sah, benar, dan berhak bersuara dalam sebuah komunitas bahasa. Menurutnya, bagi masyarakat tutur minoritas yang kuat dalam tradisi lisan, ortografi dapat berfungsi ganda—sebagai jembatan pelestarian bahasa, namun juga berpotensi menjadi tembok yang mengasingkan penuturnya sendiri.

“Ortografi bukan hanya soal menulis bunyi, tetapi tentang siapa yang berhak menentukan bentuk tulisan yang dianggap benar,” ujarnya di hadapan sivitas akademika.

Ia mencontohkan dinamika bahasa Gorontalo yang hidup dalam dua tradisi ortografi, yakni Latin dan Arab-Pegon. Kedua sistem tersebut, kata dia, tidak sepenuhnya selaras dengan karakter fonetik bahasa Gorontalo sehingga melahirkan ruang negosiasi antara tradisi, modernitas, dan kebijakan bahasa.

Lebih jauh, Prof. Suleman menyoroti dampak psikologis dari standarisasi bahasa. Masyarakat tutur minoritas kerap merasakan alienasi linguistik ketika bahasa mereka dipaksa tunduk pada sistem tulisan yang tidak sepenuhnya mereka kuasai. Kondisi ini diperparah di era digital, ketika keterbatasan teknologi—seperti papan ketik dan sistem Unicode—membuat ciri khas ortografi lokal perlahan tergerus.

“Jika huruf tidak tersedia di ruang digital, maka bahasa itu perlahan hilang dari percakapan modern,” jelasnya.

Menurutnya, ortografi yang ideal bukan hanya akurat secara linguistik, tetapi juga mudah diakses, ramah teknologi, dan diterima secara emosional oleh komunitas penuturnya. Dengan demikian, ortografi dapat menjadi rumah bersama bagi bahasa, bukan penjara yang membatasi ekspresinya.

Orasi ilmiah ini menegaskan kontribusi Prof. Suleman Bouti dalam kajian sosiolinguistik, khususnya dalam memperjuangkan pemahaman ortografi sebagai bagian dari keadilan sosial dan pelestarian bahasa daerah di tengah arus normalisasi dan modernisasi. (Wan)


Share