Gorontalo — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali meneguhkan komitmennya dalam pengembangan keilmuan melalui pengukuhan Prof. Dr. Frida Maryati Yusuf, M.Pd. sebagai Guru Besar Bidang Belajar dan Pembelajaran pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Dalam orasi ilmiah yang disampaikan pada Sidang Terbuka Senat UNG, Prof. Frida mengangkat tema “Belajar dan Pembelajaran sebagai Proses Bermakna dan Berkelanjutan”.
Dalam orasinya, Prof. Frida menegaskan bahwa belajar dan pembelajaran tidak lagi dapat dimaknai sekadar sebagai proses transfer pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Menurutnya, pembelajaran merupakan proses sosial, kultural, dan transformasional yang membentuk cara berpikir, bersikap, serta mengambil keputusan dalam kehidupan. Keberhasilan pembelajaran tidak cukup diukur dari capaian angka semata, tetapi juga dari tumbuhnya kemauan belajar, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta kepercayaan diri peserta didik.
Lebih lanjut, Prof. Frida memaparkan hasil penelitiannya terkait retensi peserta didik pada mata pelajaran Biologi di SMA se-Kota Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan retensi peserta didik berada pada kategori cukup baik, khususnya dalam mengenali dan mengingat informasi dasar. Namun demikian, masih ditemukan tantangan pada kemampuan reintegratif, yakni kemampuan mengaitkan konsep-konsep yang dipelajari dengan konteks lain serta penerapannya dalam kehidupan nyata.
Ia menjelaskan bahwa keterampilan metakognitif memiliki peran kunci dalam meningkatkan retensi belajar peserta didik. Model pembelajaran berbasis masalah, pemanfaatan teknologi pendidikan, kemampuan berpikir kreatif, dan kepercayaan diri akan memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap retensi apabila didukung oleh keterampilan metakognitif yang kuat. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang secara reflektif dan holistik agar pengetahuan yang diperoleh tidak hanya diingat, tetapi juga dipahami secara mendalam dan berkelanjutan.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Prof. Frida juga mengingatkan bahwa digitalisasi pembelajaran tidak serta-merta meningkatkan kualitas belajar. Teknologi harus diposisikan sebagai pengungkit yang mendukung interaksi manusiawi, dialog, dan refleksi, bukan sebagai pengganti peran pendidik. Pembelajaran abad ke-21, menurutnya, harus berbasis bukti, inklusif, dan berorientasi pada pemahaman mendalam.
Menutup orasi ilmiahnya, Prof. Frida menyampaikan empat agenda kontribusi akademik ke depan, yakni penguatan pedagogi berbasis bukti, pengembangan asesmen autentik dan formatif, penguatan pembelajaran inklusif dan kontekstual, serta penguatan ekosistem kolaborasi antara universitas, sekolah, dan masyarakat. Ia berharap kontribusi tersebut dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran di Indonesia.
Pengukuhan Guru Besar ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik Prof. Dr. Frida Maryati Yusuf, sekaligus memperkaya khazanah keilmuan Universitas Negeri Gorontalo dalam bidang belajar dan pembelajaran. (Wan)