Gorontalo — Prof. Dakia N. Djou resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Antropolinguistik pada Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Pengukuhan tersebut ditandai dengan penyampaian orasi ilmiah yang mengangkat kekayaan bahasa dan budaya Gorontalo dalam upacara pernikahan adat.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Struktur Formulaik Tuturan Adat Gorontalo dalam Upacara Pernikahan: Kajian Etnolinguistik”, Prof. Dakia menegaskan bahwa bahasa Gorontalo ragam adat memiliki sistem formulaik yang khas, terstruktur, dan sarat makna simbolik. Bahasa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media pelestarian nilai budaya dan identitas masyarakat Gorontalo.
Prof. Dakia menjelaskan, tuturan adat dalam prosesi peminangan dan pernikahan Gorontalo disampaikan melalui bahasa yang berirama, penuh metafora, serta dikemas dalam bentuk tuja’i. Penggunaan bahasa ini menuntut keahlian khusus dari para juru bicara adat (utoliya) yang berperan sebagai wakil keluarga kedua mempelai.
“Bahasa adat Gorontalo bukanlah bahasa yang dihafalkan, melainkan dibangun melalui pola formulaik yang memungkinkan penutur berkreasi sesuai situasi dan kondisi upacara,” ujar Prof. Dakia dalam orasinya.
Ia juga memaparkan bahwa variasi tuturan adat muncul sebagai bentuk kreativitas penutur, baik dalam pemilihan kata, struktur kalimat, maupun penggunaan simbol dan perumpamaan. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa adat Gorontalo bersifat dinamis, namun tetap berpijak pada norma dan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Pengukuhan Guru Besar ini menjadi capaian akademik tertinggi bagi Prof. Dakia N. Djou, setelah menerima Surat Keputusan Guru Besar terhitung sejak 1 Agustus 2023. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan rasa syukur serta terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, pimpinan UNG, para promotor, kolega dosen, keluarga, dan seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan akademiknya.
Dengan pengukuhan ini, Prof. Dakia diharapkan dapat terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu linguistik, khususnya dalam upaya pelestarian bahasa daerah Gorontalo agar tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi. (Wan)