Go-Pena Baner

Monday, 12 January, 2026

Penelitian Dosen FEB UNG Bahas Dinamika Kemiskinan Anak di Indonesia

Responsive image
Universitas Negeri Gorontalo. (Istimewa/Doc UNG)

Gorontalo — Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Dr. Irawati Abdul, bersama Yusrin S. Hasan dan Fitri Hadi Yulia Akib, berhasil mengungkap faktor-faktor utama yang memengaruhi tingkat kemiskinan anak di Indonesia melalui sebuah penelitian yang dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi.

Penelitian berjudul “Monetary Child Poverty Analysis in Indonesia: Empirical Evidence with Panel Data” tersebut dimuat dalam International Journal of Economics Development Research Volume 5 Nomor 5 Tahun 2024. Studi ini menganalisis kemiskinan anak secara moneter di 34 provinsi di Indonesia pada periode 2019–2022 dengan menggunakan pendekatan panel data dan Fixed Effect Model (FEM).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan anak, yakni kepemilikan akta kelahiran, penggunaan internet untuk sekolah, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi daerah, serta tingkat partisipasi angkatan kerja.

Dr. Irawati Abdul menjelaskan bahwa kepemilikan akta kelahiran menjadi faktor penting dalam menurunkan risiko kemiskinan anak. Anak yang memiliki identitas resmi lebih mudah mengakses layanan publik, pendidikan, kesehatan, serta berbagai program perlindungan sosial dari pemerintah.

Selain itu, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terbukti secara konsisten menurunkan tingkat kemiskinan anak. Hal ini menegaskan pentingnya pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi utama pengentasan kemiskinan jangka panjang.

Penelitian ini juga menyoroti adanya ketimpangan kemiskinan anak antarwilayah, di mana provinsi-provinsi di Indonesia bagian timur, khususnya Papua dan Papua Barat, masih mencatat tingkat kemiskinan anak tertinggi secara nasional. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kebijakan afirmatif dan pembangunan yang lebih merata antarwilayah.

Menariknya, beberapa variabel seperti pekerja anak, ketimpangan pendapatan, angka putus sekolah usia 7–12 tahun, tingkat pendidikan prasekolah, serta penerima Program Indonesia Pintar (PIP) pada jenjang SD dan SMP tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam model penelitian. Temuan ini mengindikasikan perlunya evaluasi dan penguatan efektivitas program-program tersebut.

Melalui riset ini, tim peneliti FEB UNG merekomendasikan pendekatan kebijakan yang terintegrasi dalam penanggulangan kemiskinan anak, meliputi penguatan sistem administrasi kependudukan, transformasi digital pendidikan, peningkatan kualitas pembangunan manusia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

Capaian ini menjadi bukti kontribusi nyata dosen UNG dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan perumusan kebijakan publik, sekaligus memperkuat peran Universitas Negeri Gorontalo dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan penghapusan kemiskinan.


Share