GORONTALO - Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk "Pelatihan dan Pembentukan Kader Kesehatan Jiwa Remaja di Desa Luwoo, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo" sebagai upaya meningkatkan pengetahuan, kepedulian, dan kemampuan remaja dalam menjaga serta mempromosikan kesehatan jiwa di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung pada 16 Juni 2026 ini merupakan bagian dari program Pemberdayaan Masyarakat Desa Mitra. Selain memberikan edukasi mengenai kesehatan mental remaja, program ini juga bertujuan memberdayakan remaja agar mampu menjadi konselor sebaya (peer counselor) melalui pelatihan peer group counseling.
Kegiatan pengabdian dipimpin oleh Gusti Ayu Putu Putri Ariani, S.Kep., Ns., M.Kep. sebagai ketua tim, dengan anggota Ruliyani Manumba, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.J., serta mahasiswa Moh. Dimas Putra Oka dan Meriske Natasya Hunow. Seluruh tim merupakan dosen dan mahasiswa Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo.
Program ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya berbagai permasalahan kesehatan jiwa pada remaja, seperti stres, kecemasan, depresi, hingga perundungan (bullying), serta masih rendahnya kemampuan remaja dalam mengenali dan mengelola masalah kesehatan mental.

Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam tiga tahapan. Tahap pertama berupa pembentukan kader kesehatan jiwa remaja melalui koordinasi dengan pemerintah Desa Luwoo. Peserta dipilih berdasarkan minat, kemampuan komunikasi, jiwa kepemimpinan, serta komitmen menjadi agen perubahan dalam promosi kesehatan jiwa.
Tahap kedua diisi dengan pelatihan yang mencakup konsep dasar kesehatan jiwa remaja, perkembangan psikososial, faktor risiko dan faktor protektif gangguan kesehatan jiwa, deteksi dini masalah psikologis, manajemen stres, keterampilan komunikasi efektif, Psychological First Aid (PFA), pencegahan perundungan, hingga mekanisme rujukan apabila ditemukan remaja yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Peserta juga dibekali instrumen skrining kesehatan mental berbasis web untuk membantu mendeteksi gejala stres, kecemasan, dan depresi. Materi disampaikan melalui ceramah, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, role play, demonstrasi teknik relaksasi mindfulness dan butterfly hug, serta praktik peer group counseling. Selain itu, dilakukan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta.
Tahap ketiga merupakan evaluasi efektivitas pelatihan melalui pendampingan kepada kader yang telah terbentuk. Para kader dibekali modul pelatihan, media edukasi, serta panduan pelaksanaan peer group counseling agar mampu menjalankan program secara berkelanjutan. Mereka juga diarahkan untuk berkolaborasi dengan guru bimbingan dan konseling, tenaga kesehatan puskesmas, serta orang tua dalam mendukung deteksi dini dan promosi kesehatan jiwa remaja.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap terbentuk kader kesehatan jiwa remaja yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif dalam memberikan dukungan kepada teman sebaya. Kehadiran kader diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan mental serta menjadi bagian dari upaya pencegahan gangguan kesehatan jiwa pada remaja secara berkelanjutan. (*)