Go-Pena Baner

Tuesday, 20 January, 2026

Hasil Penelitian Disalahartikan, Peneliti UNG Tegaskan Riset Mikroplastik untuk Antisipasi Sampah dan Tidak Ganggu Nelayan Torosiaje

Responsive image
Tim Peneliti UNG.

GORONTALO — Tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menegaskan bahwa penelitian ilmiah awal terkait mikroplastik pada ikan di wilayah Torosiaje Jaya dan perairan Teluk Tomini bertujuan untuk mengantisipasi permasalahan sampah pesisir, bukan untuk merugikan masyarakat nelayan.

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries edisi Januari 2026 ini dilakukan oleh Syam S. Kumaji, Dewi Wahyuni K. Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, serta Femy Mahmud Sahami. Tim peneliti menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Torosiaje Jaya atas kesalahpahaman yang muncul akibat pemberitaan media yang tidak utuh dalam mengutip hasil riset.

Syam S. Kumaji menjelaskan, riset tersebut dilakukan sebagai langkah ilmiah awal untuk menarik perhatian pemerintah pusat dan pemerintah provinsi agar persoalan pengelolaan sampah di wilayah pesisir, khususnya Torosiaje, dapat segera ditangani secara serius dan berkelanjutan.

“Penelitian ini bertujuan mengungkap pola distribusi atau penyebaran ikan yang dicurigai terpapar mikroplastik, bukan untuk menyimpulkan kondisi keseluruhan ikan di Teluk Tomini,” jelas Syam.

Ia menegaskan, dalam studi tersebut tim peneliti hanya mengambil 12 spesies ikan dengan total 15 individu, yang dikumpulkan dari tiga titik lokasi, yakni wilayah pulau, perairan pemukiman, serta area dekat tambatan perahu. Jumlah dan titik pengambilan sampel tersebut merupakan bagian dari pendekatan riset awal.

Lebih lanjut, Syam meluruskan bahwa bagian ikan yang dianalisis di laboratorium hanyalah saluran pencernaan, bukan daging ikan. Saluran cerna tersebut merupakan bagian yang umumnya dibuang saat proses pembersihan ikan sebelum dikonsumsi masyarakat.

“Jadi perlu kami tegaskan, penelitian ini tidak berkaitan dengan kualitas daging ikan yang dikonsumsi, dan sama sekali tidak mengganggu mata pencaharian nelayan di Torosiaje,” ujarnya.

Syam menambahkan, riset ini masih bersifat awal dan akan dilanjutkan dengan penelitian lanjutan yang lebih mendalam. Selain itu, tim peneliti juga tengah melakukan mitigasi awal di Torosiaje untuk menemukan model pengelolaan sampah pesisir yang efektif.

“Model pengelolaan sampah yang kami dorong nantinya diharapkan bisa menjadi contoh, bukan hanya untuk Torosiaje, tetapi juga untuk wilayah pesisir lain di Indonesia, bahkan secara global,” pungkas Syam.

Dengan klarifikasi ini, tim peneliti UNG berharap masyarakat tidak lagi salah menafsirkan hasil penelitian dan tetap mendukung upaya ilmiah dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir. (Wan)


Share