BOALEMO – Upaya membangun generasi emas yang sehat, berkarakter, dan bebas dari penyalahgunaan narkoba terus diperkuat melalui penyelenggaraan Webinar Nasional "Mentari Bersinar Tanpa Narkoba" yang mengusung tema "Generasi Emas Cendekia Boalemo Bersinar Melalui Integrasi Kurikulum Anti Narkoba Pada Satuan Pendidikan Formal Mulai Sejak Dini."
Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting pada Selasa, 21 Juli 2026, mulai pukul 08.30 WITA hingga selesai, menghadirkan akademisi, praktisi pendidikan, serta pemangku kepentingan dalam upaya memperkuat pendidikan anti narkoba di lingkungan sekolah.
Webinar dibuka oleh Bupati Boalemo, Drs. H. Rum Pagau, dan turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boalemo Ahmad Sarman, M.Pd, Kepala BNNK Provinsi Gorontalo Brigjen Pol. Sri Bardiyati, S.Sos., M.Si, serta Kepala Balai Kedokteran Kesehatan Polda Gorontalo Dr. Ns. Ibrahim Paneo, S.Pd., S.Kep., M.Kes.
Kegiatan dipandu oleh Dr. Meiskyarti Luma, M.Pd selaku moderator.
Webinar menghadirkan sejumlah narasumber dengan materi yang saling melengkapi dalam membangun sistem pendidikan yang mampu mencegah penyalahgunaan narkoba sejak dini, yaitu :
Dalam paparannya, Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I menekankan bahwa upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak cukup hanya melalui pengetahuan mengenai bahaya narkotika, tetapi harus dibarengi dengan pembentukan ketahanan diri (self resilience) dan keterampilan sosial (life skills) pada peserta didik.
Menurutnya, ketahanan diri merupakan kemampuan seseorang untuk bangkit dari tekanan, mampu beradaptasi terhadap tantangan, serta tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang membawa dampak negatif. Masa remaja menjadi fase yang sangat rentan terhadap berbagai pengaruh seperti narkoba, pergaulan bebas, bullying, hingga tekanan teman sebaya, sehingga diperlukan penguatan karakter sejak dini.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan life skills meliputi kemampuan mengenali diri sendiri (self-awareness), berpikir kritis (critical thinking), mengambil keputusan secara bijak, mengelola emosi, serta memiliki keberanian untuk mengatakan "tidak" terhadap ajakan yang merugikan melalui komunikasi asertif.
Selain itu, Prof. Novianty menegaskan pentingnya peran guru sebagai fasilitator, mentor, sekaligus teladan dalam membangun karakter siswa. Guru didorong mengintegrasikan pendidikan karakter dan kecakapan hidup ke dalam proses pembelajaran, menggunakan metode diskusi, studi kasus, serta pendekatan yang mampu menumbuhkan resiliensi peserta didik.
Sebagai penutup, ia menyampaikan pesan bahwa ketahanan diri bukanlah bakat bawaan, melainkan kemampuan yang dapat terus dilatih melalui pendidikan, lingkungan yang positif, dan pembiasaan nilai-nilai karakter. Dengan fondasi mental yang kuat, siswa diharapkan mampu mengambil keputusan yang benar dan menolak berbagai pengaruh negatif demi meraih masa depan yang lebih baik. (*)