GORONTALO - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Gorontalo menyampaikan hasil investigasi terkait Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (KLB-KP) yang terjadi pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 11 Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi lapangan, buah pepaya diduga kuat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap insiden tersebut.
Kejadian yang terjadi pada 21 Mei 2026 itu menyebabkan 18 siswa mengalami keluhan seperti mual, muntah, sakit perut, dan pusing setelah mengonsumsi paket makanan MBG yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tuladenggi. Seluruh siswa yang terdampak mendapatkan penanganan medis dan tidak terdapat korban meninggal dunia.
Dalam laporan investigasinya, BBPOM Gorontalo melakukan pengujian terhadap 17 sampel pangan yang terdiri dari nasi, lauk, sayur, sambal, hingga buah pepaya. Hasilnya menunjukkan seluruh sampel nasi, lauk, dan sayur tidak ditemukan kandungan bakteri berbahaya maupun histamin yang menjadi penyebab keracunan pangan. Namun, pada sampel buah pepaya ditemukan angka kapang dan khamir yang jauh lebih tinggi dibandingkan komponen pangan lainnya.
Selain hasil laboratorium, investigasi juga menemukan bahwa sebagian siswa dan guru sempat melihat kondisi pepaya yang bertekstur lembek dan berair saat kemasan makanan dibuka. Sebagian siswa memilih tidak mengonsumsinya, sementara beberapa siswa sempat mencicipi sebelum merasakan gejala yang kemudian muncul.
BBPOM Gorontalo menilai temuan tersebut mengindikasikan adanya penurunan mutu mikrobiologis pada buah pepaya yang digunakan dalam menu MBG saat itu. Meski demikian, lembaga tersebut menegaskan bahwa penetapan penyebab pasti kejadian masih memerlukan investigasi lanjutan dan pengujian laboratorium yang lebih komprehensif. Hal ini karena data epidemiologi yang tersedia belum sepenuhnya lengkap dan sampel yang diuji berasal dari bank sampel dapur, bukan dari makanan yang langsung dikonsumsi oleh siswa.
Di sisi lain, hasil pemeriksaan terhadap dapur SPPG Tuladenggi juga menemukan sejumlah catatan perbaikan, di antaranya belum adanya monitoring suhu makanan secara rutin, masih tersimpannya bahan pangan yang sudah tidak layak digunakan, serta beberapa aspek sanitasi dan pengendalian mutu yang perlu ditingkatkan. BBPOM merekomendasikan penghentian sementara operasional hingga seluruh tindakan perbaikan dapat diverifikasi.
Menanggapi hasil investigasi tersebut, Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Gorontalo, menyatakan bahwa temuan ini akan menjadi bahan evaluasi penting untuk memperkuat sistem pengawasan program MBG di daerah.
“Program Makan Bergizi Gratis adalah program yang sangat baik untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak kita. Karena itu, setiap kejadian yang terjadi harus menjadi pelajaran bersama agar kualitas pelayanan semakin baik. Kami akan memastikan seluruh rekomendasi dari BBPOM ditindaklanjuti, mulai dari pengawasan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada siswa,” ujar Idah.
Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Gorontalo bersama seluruh pihak terkait berkomitmen menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program MBG dengan mengedepankan aspek keamanan pangan dan keselamatan peserta didik.
“Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama. Satgas MBG akan terus melakukan pengawasan dan koordinasi lintas sektor agar program ini berjalan sesuai standar dan memberikan manfaat optimal bagi generasi penerus daerah,” pungkasnya. (Wan)