Go-Pena Baner

Friday, 24 July, 2026

FGD di SDN 1 Bunta, Prof.Dr. Novianty Djafri Bahas Model Keluarga Pesisir untuk Tingkatkan Motivasi Belajar Anak

Responsive image
FGD di SDN 1 Bunta

BUNTA – Guru Besar Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo (FIP UNG), Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I, menjadi narasumber dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Pengembangan Model Keluarga Pesisir untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Anak" yang digelar secara luring di SDN 1 Bunta, Kabupaten Banggai, pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Dalam pemaparannya, Prof. Novianty menekankan bahwa keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk motivasi belajar anak, khususnya bagi mereka yang tinggal di kawasan pesisir. Menurutnya, tantangan geografis, kondisi ekonomi yang bergantung pada hasil laut, hingga pola pikir masyarakat yang menganggap bekerja di laut lebih cepat menghasilkan uang menjadi faktor yang memengaruhi rendahnya motivasi belajar anak.

Ia menegaskan bahwa pendidikan bukanlah sarana untuk meninggalkan profesi sebagai nelayan, melainkan bekal agar generasi muda mampu mengelola potensi kelautan secara lebih cerdas dan berkelanjutan.

Dalam FGD tersebut, Prof. Novianty juga menguraikan sejumlah penyebab rendahnya motivasi belajar anak pesisir. Di antaranya minimnya figur teladan yang berpendidikan tinggi di lingkungan sekitar, kelelahan fisik karena membantu orang tua melaut, serta keterbatasan fasilitas belajar seperti penerangan dan akses terhadap buku bacaan.

Sebagai solusi, ia mendorong keluarga agar menjadi "jangkar utama" dalam pendidikan anak. Orang tua diharapkan mampu membangun karakter sejak dini, memberikan dukungan psikologis, sekaligus menjadikan pendidikan sebagai jalan memutus rantai kemiskinan di masyarakat pesisir.

Selain itu, Prof. Novianty mengajak orang tua untuk menerapkan waktu belajar yang fleksibel dengan tetap memberi kesempatan kepada anak membantu pekerjaan keluarga, namun tetap menyediakan waktu belajar yang konsisten setiap malam. Penggunaan gawai maupun televisi saat jam belajar juga perlu dibatasi agar anak lebih fokus.

Ia juga memperkenalkan konsep pembelajaran kontekstual dengan memanfaatkan lingkungan pesisir sebagai ruang belajar. Aktivitas seperti menghitung hasil tangkapan ikan untuk pelajaran matematika, mempelajari pasang surut air laut dan ekosistem mangrove untuk ilmu pengetahuan alam, hingga membaca bersama di tepi pantai menjadi metode yang dinilai efektif meningkatkan minat belajar anak.

Tak kalah penting, Prof. Novianty mengingatkan orang tua agar memberikan apresiasi atas setiap pencapaian anak, baik melalui pujian maupun hadiah sederhana. Ia juga mengimbau agar orang tua tidak membandingkan kemampuan anak dengan teman sebayanya karena dapat menurunkan rasa percaya diri dan motivasi belajar.

Pada kesempatan tersebut, ia turut menekankan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Komunikasi rutin antara orang tua dan guru, pembentukan kelompok belajar di desa, serta menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif dari kalangan alumni dinilai dapat memperkuat semangat belajar anak-anak di wilayah pesisir.

Menutup paparannya, Prof. Novianty menegaskan bahwa setiap anak pesisir memiliki potensi yang sama dengan anak-anak di perkotaan. Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan pendidikan, karena motivasi terbesar anak lahir dari perhatian, dukungan, dan doa orang tua di rumah. (*)


Share