Go-Pena Baner

Monday, 10 August, 2026

Bawa Misi Generasi Emas, 1.518 Mahasiswa UNG Mengabdi di 102 Desa

Responsive image
Foto bersama rektor UNG, Eduart Wolok dengan para mahasiswa KKN UNG. (Foto : UNG)

 

 

 

 

UNG– Sebanyak 1.518 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali diterjunkan ke tengah masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026.

 

Mengusung tema “KKN Tematik Generasi Emas: Pencegahan Narkoba, Stunting, dan Penguatan Pangan Keluarga”, program pengabdian ini diarahkan untuk mendorong mahasiswa berkontribusi secara langsung dalam menjawab berbagai persoalan strategis yang dihadapi masyarakat.

 

Sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian, seluruh mahasiswa terlebih dahulu mengikuti coaching dan pelepasan. Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa, baik dari sisi pemahaman terhadap tema maupun penyusunan program kerja yang sesuai dengan kondisi masyarakat di masing-masing desa.

 

Kepala Pusat KKN UNG, Dr. Rosbin Pakaya, M.Pd., mengatakan KKN Tematik Tahap II tahun ini melibatkan 220 Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Para mahasiswa akan ditempatkan di 102 desa yang tersebar di Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, dan Kabupaten Bone Bolango.

 

Menurut Rosbin, tiga isu utama yang diangkat dalam KKN kali ini, yakni pencegahan narkoba, penanganan stunting, dan penguatan pangan keluarga, merupakan persoalan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan mahasiswa.

 

“Melalui tema yang diangkat, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing desa. Pendampingan dari DPL juga menjadi bagian penting agar seluruh kegiatan dapat berjalan secara terarah dan memberikan manfaat,” jelas Rosbin.

 

Sementara itu, Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., mengingatkan mahasiswa agar tidak memandang KKN hanya sebagai bagian dari kewajiban akademik.

 

Menurutnya, KKN harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung dari masyarakat sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang ditemui di lapangan.

 

Eduart meminta mahasiswa terlebih dahulu memahami karakteristik, potensi, serta kebutuhan masyarakat sebelum menentukan dan menjalankan program kerja.

 

“Manfaatkan masa KKN ini dengan sebaik-baiknya untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. Pahami tema dan program kerja, kemudian sesuaikan dengan potensi serta kebutuhan masyarakat di masing-masing desa,” pesan Eduart.

 

Ia menegaskan, keberhasilan KKN tidak semata-mata diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan. Lebih dari itu, keberhasilan pengabdian juga ditentukan oleh kemampuan mahasiswa membangun komunikasi, berkolaborasi, serta meninggalkan manfaat yang dapat dilanjutkan oleh masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus.

 

“Jangan menyikapi KKN sebagai formalitas belaka agar tidak terasa memberatkan. Jalani dengan gembira, penuh semangat, dan rasa tanggung jawab. KKN adalah momentum untuk belajar langsung dari dinamika masyarakat, menimba pengalaman, sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan yang ada,” tegasnya.

 

Selama 45 hari masa pengabdian, 1.518 mahasiswa UNG diharapkan mampu menghadirkan berbagai program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

 

Kolaborasi antara mahasiswa, DPL, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci agar program KKN tidak berhenti sebatas kegiatan selama masa pengabdian, tetapi dapat memberikan dampak yang berkelanjutan.

 

Melalui KKN Tematik Tahap II 2026, UNG menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan masyarakat, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki kepedulian sosial, kemampuan berkolaborasi, dan keberanian menghadirkan solusi di tengah masyarakat.


Share