Gorontalo – Rapat redesain kurikulum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Sultan Amai Gorontalo pada Rabu (20/8) menghadirkan pandangan menarik dari Prof. Muhdar. Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai respons aktif terhadap gagasan strategis yang dicanangkan Menteri Agama RI.
Menurut Prof. Muhdar, KBC bukan sekadar inovasi kurikulum, melainkan arah baru pendidikan tinggi Islam. “Kurikulum Cinta hadir untuk meneguhkan peran PTKIN sebagai pusat ilmu, pusat nilai, dan pusat transformasi sosial. FEBI akan menjadikan gagasan Menteri Agama ini sebagai inspirasi dalam membentuk lulusan yang bukan hanya cerdas intelektual, tapi juga berintegritas, nasionalis, toleran, dan peduli sosial,” tegasnya.
KBC sendiri dimaknai melalui nilai inti CINTA: Cinta kepada Allah dan agama, Integritas diri dan ilmu, Nasionalisme dan kebangsaan, Toleransi dan moderasi beragama, serta Aksi sosial dan kepedulian lingkungan. Nilai-nilai ini, kata Prof. Muhdar, sangat relevan di tengah tantangan dunia bisnis modern yang sering terjebak dalam pola pikir untung-rugi semata.
“Setiap aktivitas ekonomi sejatinya adalah ibadah, bentuk kepedulian sosial, dan kontribusi nyata bagi bangsa. FEBI berkomitmen mengintegrasikan nilai CINTA ini ke dalam mata kuliah inti, praktik kewirausahaan, hingga program pengabdian masyarakat,” ujarnya.
Lebih jauh, Prof. Muhdar menekankan bahwa secara institusi, IAIN Sultan Amai Gorontalo pada umumnya dan FEBI pada khususnya akan merespons aktif setiap gagasan baik dari Kementerian Agama. Bagi FEBI, KBC merupakan kebijakan yang selaras dengan visi fakultas untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya kompeten dalam bidang ekonomi syariah, perbankan, akuntansi, dan manajemen keuangan, tetapi juga memiliki jiwa kasih sayang, toleransi, dan kepedulian terhadap keadilan sosial.
“FEBI siap menjadi laboratorium ekonomi berbasis cinta. Kami ingin mahasiswa dididik bukan hanya sebagai sarjana ekonomi Islam, tetapi juga agen perubahan yang membawa nilai rahmatan lil ‘alamin di bidang ekonomi dan bisnis,” jelasnya penuh keyakinan.
Penerapan KBC di FEBI diharapkan mampu melahirkan lulusan dengan etos bisnis islami, berpihak pada keadilan sosial, peduli lingkungan, serta berkontribusi pada kemandirian ekonomi bangsa. Dengan demikian, gagasan Kemenag tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi benar-benar hidup dalam praktik akademik di PTKIN, khususnya di IAIN Sultan Amai Gorontalo. (*)