GORONTALO – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, mendorong masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap gangguan pendengaran, khususnya pada bayi dan anak-anak.
Hal itu disampaikan Idah saat membuka kegiatan Workshop Merdeka Mendengar yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Selasa (11/8/2026).
Dalam sambutannya, Idah menekankan pentingnya deteksi dan penanganan gangguan pendengaran sejak dini. Menurutnya, kemampuan mendengar sangat berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak, terutama dalam kemampuan berkomunikasi dan berbicara.
“Apabila sejak lahir atau setelah melahirkan diketahui ada gangguan pada telinga, segera dilakukan pemeriksaan dan penanganan. Jangan menunggu sampai anak besar, karena kemampuan mendengar sangat berpengaruh terhadap kemampuan anak untuk belajar berbicara,” ujar Idah.
Ia juga menyampaikan bahwa persoalan gangguan pendengaran masih cukup banyak ditemukan di masyarakat Gorontalo. Karena itu, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, terutama ibu hamil dan orang tua yang memiliki bayi maupun anak, perlu terus dilakukan.
Idah mengungkapkan, dirinya juga pernah mendapatkan informasi mengenai program pelayanan operasi dan pemasangan alat bantu pendengaran yang diberikan secara gratis untuk kondisi tertentu. Sementara untuk kebutuhan pemasangan pada kedua telinga, terdapat skema pembiayaan yang dapat dicicil sehingga diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan pihak swasta dalam memberikan kemudahan pembiayaan maupun pelayanan kesehatan menjadi peluang yang harus dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Ini adalah kesempatan kita. Ternyata di Gorontalo banyak sekali yang mempunyai kelainan atau gangguan pendengaran seperti ini. Karena itu, mari kita sosialisasikan kepada ibu-ibu, mulai dari ibu hamil sampai ibu yang sudah mempunyai anak,” katanya.
Idah juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap faktor keturunan. Ia mencontohkan pasangan yang sama-sama mengalami gangguan pendengaran perlu mendapatkan pendampingan dan pemeriksaan agar kondisi kesehatan pendengaran anak dapat diketahui sejak awal.
“Dengan adanya sosialisasi seperti ini, mari kita bergerak bersama untuk memberikan solusi bagaimana anak-anak kita yang mengalami gangguan pendengaran bisa mendapatkan kesempatan untuk mendengar dan berkembang secara optimal,” tutur Idah.
Selain aspek kesehatan, Idah menilai penyandang disabilitas, termasuk mereka yang memiliki gangguan pendengaran, harus diberikan ruang untuk berdaya, bekerja dan berkarya.
Ia mencontohkan kerja sama yang dilakukan Pemerintah Provinsi Gorontalo dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia, dalam memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk terlibat dalam berbagai kegiatan dan pengembangan UMKM.
Menurutnya, kesempatan untuk bekerja dan berkarya dapat meningkatkan kepercayaan diri serta memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka di tengah masyarakat.
“Harapannya, melalui kegiatan seperti ini kita tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi juga bagaimana mereka bisa menghargai dirinya sendiri, bekerja, berkarya dan mendapatkan kesempatan yang sama,” jelasnya.
Idah menambahkan, gangguan pendengaran dapat dialami siapa saja, mulai dari bayi baru lahir, anak-anak, orang dewasa hingga lanjut usia. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting agar gangguan tersebut dapat segera ditangani dan tidak berdampak lebih jauh terhadap perkembangan maupun kualitas hidup seseorang.
Ia berharap Workshop Merdeka Mendengar yang digelar Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dapat menjadi momentum untuk memperkuat edukasi, deteksi dini, serta kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, pihak swasta dan masyarakat dalam menangani persoalan gangguan pendengaran di Gorontalo.
“Semoga kegiatan ini menjadi harapan kita bersama untuk memberikan solusi dan manfaat nyata bagi masyarakat Gorontalo,” pungkasnya. (Wan)