GORONTALO — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah, tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam membangun aktivitas ekonomi yang berintegritas dan bermartabat.
Hal tersebut disampaikan Bendahara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Gorontalo, Andi Ilham, S.E. Ia mengajak masyarakat, khususnya para pelaku usaha, menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum memperkuat nilai-nilai kejujuran, amanah, kecerdasan, dan keterbukaan dalam menjalankan usaha.
Menurut Andi Ilham, Rasulullah SAW telah memberikan keteladanan yang sangat relevan diterapkan dalam dunia usaha melalui empat sifat utama, yakni siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
“Pelaku usaha harus mampu menempatkan kejujuran dan amanah sebagai modal utama. Keuntungan penting, tetapi cara memperoleh keuntungan jauh lebih penting,” ujar Andi Ilham.
Ia menjelaskan, siddiq atau kejujuran harus menjadi dasar dalam setiap aktivitas bisnis, mulai dari kualitas produk, penetapan harga hingga pelayanan kepada konsumen.
Sementara amanah berkaitan dengan kemampuan menjaga kepercayaan. Menurutnya, kepercayaan pelanggan, mitra usaha maupun masyarakat merupakan modal penting untuk menjaga keberlangsungan sebuah usaha.
“Ketika kepercayaan hilang, bisnis akan sulit bertahan. Karena itu, amanah bukan sekadar nilai agama, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi,” jelasnya.
Selanjutnya, sifat tabligh dapat diterapkan melalui komunikasi dan keterbukaan dalam menjalankan usaha. Pelaku usaha dituntut menyampaikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan konsumen.
Sedangkan fathanah atau kecerdasan menjadi bekal menghadapi perubahan zaman. Pelaku usaha harus terus belajar, berinovasi, memanfaatkan teknologi, membaca peluang pasar serta mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi.
Maulid Nabi Jadi Momentum Perkuat Ekonomi
Andi Ilham menilai semangat Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai-nilai keteladanan Rasulullah perlu diterjemahkan dalam kehidupan nyata, termasuk dalam aktivitas ekonomi.
Ia mendorong pelaku usaha di Gorontalo agar tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Usaha yang berkembang, kata dia, idealnya mampu membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan, menggerakkan ekonomi lokal dan memperkuat kemandirian daerah.
“Ekonomi yang kuat bukan hanya ditandai oleh besarnya transaksi, tetapi juga seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, Gorontalo memiliki potensi besar untuk membangun ekonomi berbasis masyarakat apabila pelaku usaha, pemerintah, ulama, akademisi dan berbagai elemen masyarakat mampu bergerak bersama.
Integritas Menjadi Kekuatan Dunia Usaha
Di tengah persaingan ekonomi yang semakin terbuka, Andi Ilham menilai integritas justru dapat menjadi kekuatan sekaligus daya saing bagi pelaku usaha.
Bisnis yang dibangun dengan kejujuran, pelayanan yang baik, inovasi dan tanggung jawab dinilai akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan serta memiliki peluang bertahan dalam jangka panjang.
“Jangan melihat nilai-nilai agama sebagai sesuatu yang terpisah dari aktivitas ekonomi. Justru nilai-nilai tersebut dapat menjadi kompas agar kegiatan usaha tetap berada pada jalur yang benar,” ungkapnya.
Ia juga mengajak generasi muda Gorontalo yang mulai memasuki dunia kewirausahaan untuk berani berinovasi tanpa meninggalkan etika dan nilai moral.
Andi Ilham berharap momentum Maulid Nabi Muhammad SAW dapat melahirkan kesadaran bersama untuk membangun budaya usaha yang jujur, terpercaya, komunikatif, cerdas dan berorientasi pada kemaslahatan.
“Kalau empat sifat Nabi ini benar-benar diterapkan dalam dunia usaha, kita tidak hanya membangun bisnis yang maju, tetapi juga membangun ekonomi Gorontalo yang bermartabat,” pungkasnya. (Fikri)