Go-Pena Baner

Monday, 12 January, 2026

Riset Dosen UNG Dr. Irawati Abdul Ungkap Penyebab Rendahnya Produktivitas Petani Sawit Indonesia

Responsive image
Ilustrasi dibuat dengan kecerdasan buatan (AI) melalui ChatGPT/DALL-E, 2026

Gorontalo – Penelitian terbaru yang melibatkan dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Dr. Irawati Abdul, mengungkap berbagai faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas kebun sawit rakyat di Indonesia. Hasil studi ini dipublikasikan di jurnal internasional  Scientific Reports (Nature Research), melalui artikel berjudul “Analysis of Factors Affecting the Technical Inefficiency on Indonesian Palm Oil Plantation”.

Penelitian dilakukan oleh Irawati Abdul (UNG) berkolaborasi dengan Dyah Wulan Sari dan Tri Haryanto dari Universitas Airlangga serta Thinzar Win dari Mandalay University, Myanmar. Mereka menggunakan data besar dari Badan Pusat Statistik yang melibatkan 14.367 rumah tangga petani sawit di seluruh Indonesia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat efisiensi teknis petani sawit rakyat baru mencapai 58,32 persen. Angka ini jauh dari optimal dan menunjukkan bahwa para petani masih memiliki peluang besar meningkatkan hasil panen bahkan hingga 42 persen jika pengelolaan kebun dilakukan dengan lebih tepat.

Dr. Irawati Abdul menjelaskan bahwa rendahnya efisiensi bukan hanya soal luas lahan, tetapi erat kaitannya dengan kemampuan petani dalam mengelola input produksi. Faktor-faktor kunci yang menentukan efisiensi mencakup tingkat pendidikan, usia petani, sistem penanaman, kualitas bibit, keberadaan serangan hama, hingga pendampingan penyuluh pertanian. “Petani yang mendapatkan penyuluhan secara rutin dan menggunakan bibit bersertifikat terbukti lebih produktif dibandingkan yang tidak,” jelasnya.

Penelitian juga menyoroti peran sistem kemitraan. Petani sawit plasma, yang memiliki akses ke perusahaan inti dan fasilitas pembinaan, tercatat lebih efisien dibanding petani independen. Sementara itu, daerah dengan tingkat efisiensi tertinggi meliputi Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Kalimantan Barat, sedangkan daerah terendah ditemukan di Provinsi Banten.

Temuan ini memiliki implikasi penting bagi kebijakan perkebunan sawit nasional. Menurut Irawati, upaya pemerintah meningkatkan produksi sawit tidak cukup hanya dengan perluasan lahan, tetapi harus dibarengi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pelatihan, akses bibit unggul, intervensi penyuluhan, dan dukungan pendanaan menjadi kunci menaikkan kinerja petani kecil, yang justru memegang 41 persen kontribusi produksi nasional.

“Jika petani sawit rakyat mampu mengelola kebun secara optimal, kontribusinya tidak hanya menaikkan produksi minyak sawit mentah (CPO), tetapi juga memperkuat kesejahteraan masyarakat desa,” tegas Irawati. (*)


Share