GORONTALO – Penguatan kemitraan dan jejaring antarorganisasi menjadi kunci penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di era transformasi pembelajaran. Gagasan tersebut menjadi fokus utama dalam ujian sinopsis disertasi mahasiswa Program Doktor Administrasi Publik Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Rizal, yang mengangkat judul “Strategi Interorganizational Relationship dalam Implementasi Pembelajaran Berbasis Kemitraan pada Perguruan Tinggi Swasta di Gorontalo.”
Ujian sinopsis yang berlangsung di lingkungan Pascasarjana UNG itu dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Ir. Mahludin H. Baruwadi, MP selaku Ketua Sidang. Prof. Dr. Ansar Made, M.Si sebagai Promotor, Prof. Dr. Sastro Mustapa Wantu, M.Si sebagai Co-Promotor I, Dr. Yanti Aneta, M.Si sebagai Co-Promotor II, Prof. Dr. Asna Aneta, M.Si dan Dr. Fenti Prihatini Dance Tui, M.Si sebagai penguji internal, serta Dr. Ir. Azis Rachman, ST., MM selaku penguji eksternal dan Ketua APTISI Wilayah Gorontalo.
Dalam paparannya, Rizal menyoroti bagaimana perguruan tinggi swasta saat ini tidak lagi dapat mengandalkan kekuatan internal semata dalam menjalankan berbagai program pembelajaran. Implementasi kebijakan pendidikan tinggi, khususnya pembelajaran berbasis kemitraan yang berkembang sejak program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) hingga Kampus Berdampak, menuntut kampus membangun hubungan strategis dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha dan industri, organisasi profesi, lembaga masyarakat hingga perguruan tinggi lainnya.
Menurut Rizal, perubahan lingkungan global, perkembangan teknologi, serta kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis telah mendorong perguruan tinggi untuk bertransformasi. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri. Untuk mencapai hal tersebut, kemitraan yang kuat menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Penelitian yang dilakukan Rizal menemukan bahwa strategi hubungan antarorganisasi dalam implementasi pembelajaran berbasis kemitraan di perguruan tinggi swasta Gorontalo berkembang melalui tiga dimensi utama, yakni koordinasi, kerja sama, dan kolaborasi. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi dalam membangun hubungan yang produktif dan berkelanjutan antara kampus dengan para mitranya.
Menariknya, penelitian tersebut juga mengungkap adanya paradoks dalam praktik kemitraan perguruan tinggi. Di satu sisi, banyak kampus memiliki jumlah dokumen kerja sama yang cukup besar, namun belum seluruhnya mampu diterjemahkan menjadi implementasi program yang berdampak nyata bagi mahasiswa maupun mitra. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan kemitraan tidak cukup diukur dari banyaknya nota kesepahaman atau dokumen kerja sama yang ditandatangani, melainkan dari kualitas hubungan, tingkat kepercayaan, serta keberlanjutan kolaborasi yang terbangun.
Ketua Program Doktor Administrasi Publik Pascasarjana UNG, Dr. Yanti Aneta, M.Si, menilai penelitian yang dilakukan Rizal memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tantangan pendidikan tinggi saat ini.
Menurut Yanti, implementasi pembelajaran berbasis kemitraan membutuhkan tata kelola jejaring yang baik agar mampu menghasilkan manfaat yang optimal bagi perguruan tinggi, mahasiswa, maupun mitra kerja sama.
"Disertasi ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan kajian administrasi publik, khususnya terkait hubungan antarorganisasi dalam implementasi kebijakan pendidikan tinggi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan kemitraan tidak hanya bergantung pada dokumen kerja sama, tetapi juga pada kemampuan membangun koordinasi, kepercayaan, dan kolaborasi yang berkelanjutan. Ini menjadi masukan penting bagi perguruan tinggi dalam memperkuat jejaring dan tata kelola kemitraan yang lebih efektif," ujar Yanti.
Ia menambahkan, hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi perguruan tinggi swasta di Gorontalo maupun daerah lainnya dalam merancang strategi kemitraan yang lebih produktif, sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam memperkuat kebijakan pendidikan tinggi berbasis kolaborasi.
Melalui disertasinya, Rizal tidak hanya menawarkan analisis mengenai dinamika hubungan antarorganisasi dalam implementasi pembelajaran berbasis kemitraan, tetapi juga menghadirkan model strategis yang dapat menjadi rujukan dalam memperkuat tata kelola jejaring perguruan tinggi di Indonesia. Model tersebut diharapkan mampu mendorong terciptanya kemitraan yang lebih adaptif, saling menguntungkan, dan berkelanjutan dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi di masa depan. (Wan)