Go-Pena Baner

Sunday, 18 October, 2026

Prof Novianty Djafri Paparkan Model EMOBUD-LEAD untuk Inovasi Kurikulum Budaya Gorontalo

Responsive image
Guru besar Fakultas Ilmu Pendidikan, UNG, Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I memberikan materi Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan secara daring, Sabtu (17/10/2026).

GORONTALO – Pelestarian budaya lokal melalui dunia pendidikan membutuhkan inovasi pembelajaran yang mampu menanamkan kecintaan terhadap tradisi sejak usia dini. Upaya tersebut menjadi perhatian Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I, melalui gagasan penerapan model EMOBUD-LEAD untuk mengoptimalkan kurikulum muatan lokal budaya di sekolah dasar di Kota Gorontalo.

Gagasan tersebut dipaparkan Prof. Novianty Djafri dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan secara daring, Sabtu (17/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, ia membawakan materi berjudul “Penerapan Model EMOBUD-LEAD untuk Optimalisasi Kurikulum Muatan Lokal Budaya di Sekolah Dasar Kota Gorontalo”, dengan subtema strategi integrasi nilai karakter, budaya lokal, dan kepemimpinan pendidikan berbasis komunitas.

Dalam pemaparannya, Novianty menyoroti tantangan pelestarian identitas budaya lokal di tengah derasnya arus digitalisasi dan pengaruh globalisasi. Pembelajaran muatan lokal di sekolah dasar yang masih cenderung teoretis dinilai perlu dikembangkan agar lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Menurut gagasan yang ditawarkan melalui model EMOBUD-LEAD, pembelajaran budaya tidak cukup hanya membuat siswa mengetahui tradisi daerahnya. Lebih dari itu, pendidikan perlu menumbuhkan rasa bangga, pemahaman terhadap nilai-nilai luhur, serta kemauan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Integrasikan Emosi, Budaya, dan Kepemimpinan

Model EMOBUD-LEAD mengintegrasikan tiga komponen utama, yakni Emotional Engagement (EMO), Cultural Integration (BUD), serta Leadership and Community Driving (LEAD).

Komponen EMO menekankan pentingnya keterlibatan emosional siswa dalam membangun kecintaan terhadap budaya sendiri. Sementara itu, BUD berfokus pada integrasi nilai-nilai budaya dan falsafah hidup masyarakat Gorontalo ke dalam pembelajaran.

Adapun LEAD menitikberatkan peran aktif kepala sekolah, guru, orang tua, dan komunitas adat dalam mengarahkan serta menjaga keberlanjutan pendidikan budaya di sekolah.

Ketiga komponen tersebut dirancang untuk menggeser pola pembelajaran muatan lokal yang selama ini cenderung berorientasi pada hafalan dan teks menuju pembelajaran reflektif serta berbasis pengalaman.

Budaya Gorontalo Menjadi Fondasi Pendidikan Karakter

Dalam materi tersebut, Novianty juga menekankan pentingnya mengintegrasikan berbagai unsur kebudayaan Gorontalo ke dalam proses pembelajaran di sekolah dasar.

Nilai adat yang berlandaskan falsafah Adat Bersendikan Syara', Syara' Bersendikan Kitabullah menjadi salah satu fondasi yang dapat diperkenalkan kepada siswa.

Selain itu, pembelajaran dapat mencakup pengenalan pakaian adat Bili'u dan Makuta beserta filosofinya, sastra lisan seperti Tahuda, Lohidu, dan Tuja'i, serta seni dan kerajinan khas daerah, termasuk Upiah Karanji dan Karawo.

Nilai-nilai sosial seperti Huyula yang mencerminkan semangat gotong royong serta Mopo'ahula yang berkaitan dengan tenggang rasa juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter siswa.

Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mengenal berbagai bentuk kebudayaan daerah, tetapi juga memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Guru dan Komunitas Adat Berperan Strategis

Untuk mendukung penerapan model EMOBUD-LEAD, diperlukan langkah strategis melalui penyesuaian kurikulum, peningkatan kapasitas guru, serta pengembangan metode pembelajaran kontekstual.

Guru didorong mengembangkan modul ajar muatan lokal berbasis cerita budaya dan penguatan emosional siswa. Pembelajaran juga dapat dilakukan melalui kunjungan ke situs budaya, seperti Benteng Otanaha dan Rumah Adat Dulohupa.

Di sisi lain, keterlibatan orang tua dan tokoh adat dinilai penting untuk membangun ekosistem pendidikan budaya yang berkelanjutan.

Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyampaian pengetahuan, tetapi juga berkembang sebagai ruang pelestarian budaya yang menghubungkan generasi muda dengan akar tradisinya.

Dorong Pembelajaran Budaya yang Lebih Kontekstual

Dalam implementasinya, pengembangan kurikulum muatan lokal masih menghadapi tantangan, antara lain keterbatasan referensi materi yang terstruktur dan kemampuan guru dalam mengajarkan seni budaya daerah.

Sebagai salah satu solusi, materi tersebut mengusulkan penyusunan buku saku atau modul elektronik kebudayaan Gorontalo yang praktis dan mudah digunakan dalam pembelajaran.

Program Seniman Masuk Sekolah juga dapat menjadi alternatif untuk menghadirkan budayawan dan maestro seni secara langsung dalam proses pendidikan.

Keberhasilan penerapan model EMOBUD-LEAD diharapkan dapat dilihat dari tersedianya perangkat pembelajaran muatan lokal yang valid dan praktis, meningkatnya kebanggaan siswa terhadap bahasa daerah, serta tumbuhnya kesadaran untuk menerapkan tata krama Gorontalo dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, optimalisasi kurikulum muatan lokal diharapkan mampu mendorong sekolah dasar di Kota Gorontalo menjadi pusat pelestarian budaya sekaligus pembentukan karakter generasi muda.

Melalui integrasi nilai emosional, budaya lokal, dan kepemimpinan berbasis komunitas, pendidikan diharapkan menjadi salah satu upaya strategis untuk menjaga keberlanjutan tradisi Gorontalo di tengah modernisasi. (*)


Share