GORONTALO - Gelaran Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 yang berlangsung di Provinsi Gorontalo menjadi panggung utama unjuk gigi bagi berbagai inovasi teknologi pertanian mutakhir. Salah satu teknologi yang berhasil menarik perhatian besar para pengunjung adalah jajaran pesawat tanpa awak (drone) komersial untuk sektor agrikultur dan logistik yang diboyong oleh PT DSR.
Dalam sebuah sesi wawancara langsung di area pameran pada Minggu (21/6/2026), perwakilan teknis dari PT DSR, Cita Hartito, memaparkan keunggulan teknologi lini drone yang dinamai Garuda tersebut. Terdapat dua varian utama yang diperkenalkan secara resmi kepada publik, yaitu Drone Pertanian Garuda T25P dan Drone Logistik Garuda T100.
"Varian T25P ini didesain khusus untuk meningkatkan efisiensi kerja di sawah atau ladang secara otomatis dan presisi. Fungsinya meliputi penyemprotan pupuk cair atau pestisida, penebaran benih atau pupuk padat, hingga pemetaan kesehatan tanaman menggunakan sensor khusus. Sedangkan varian besar kita, Garuda T100, difungsikan untuk pengiriman kargo dan paket dari titik A ke titik B dengan kapasitas angkut maksimal hingga 100 kilogram guna menembus medan-medan sulit dan terpencil," jelas Cita Hartito.
Terkait nilai investasi, satu unit lengkap Drone Pertanian Garuda T25P dibanderol dengan harga Rp 250 juta. PT DSR memberikan kemudahan bagi kelompok tani maupun pengusaha daerah dengan membuka peluang sistem pembayaran secara dicicil.
Pemanfaatan drone komersial ini sendiri kian meluas di Indonesia. Cita menyebutkan bahwa teknologi ini telah diimplementasikan secara nyata di wilayah Lampung (Sumatera), sebagian besar wilayah Jawa, serta daerah Sulawesi melalui ekosistem penyewaan jasa semprot.
Bagi para petani lokal yang belum memiliki modal untuk pengadaan unit, ekosistem kemitraan pihak ketiga telah menyediakan jasa sewa semprot drone dengan tarif yang sangat ekonomis, yakni berkisar di angka Rp 300.000 per hektar.
Kehadiran digitalisasi dan mekanisasi di sektor agraris ini diharapkan mampu mengubah paradigma anak muda terhadap dunia pertanian. Cita menekankan pentingnya adopsi teknologi agar generasi muda tidak lagi memandang sebelah mata profesi petani.
"Harapan kami di ajang PENAS ini, dengan dipamerkannya teknologi drone Garuda, anak-anak muda bisa kembali terpacu dan bersemangat untuk bertani. Jangan hanya rebahan saja di rumah atau sekadar terpaku mencari kerja di pabrik-pabrik urban. Ayo kita beralih jadi petani modern, efisiensi kerja kita kini sudah sangat tinggi dengan bantuan teknologi," pungkas Cita. (Fikri)