Iklan Go-pena.id Susunan Redaksi Tentang Kami
Go-Pena Baner

Monday, 05 December, 2022

BPS Sebut Bensin Penyumbang Utama Inflasi di Gorontalo

Responsive image
Kepala BPS Gorontalo, Mukhamad Mukhanif

KOTA GORONTALO (Go-Pena.id) - Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) menjadi penyebab utama Inflasi di Gorontalo, hal ini diungkap Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo yang kembali merilis indeks harga konsumen (IHK) di provinsi Gorontalo, Senin (3/10/22).
BPS menyampaikan hasil inflasi di Gorontalo tembus 0,49 persen di Bulan September

Diketahui pada bulan September kemarin, pemerintah resmi menaikkan harga BBM subsidi di seluruh SPBU Pertamina dengan rincian harga, pertalite Rp 7.650 per liter menjadi 10.000 per liter. Solar subsidi Rp 5.150 per liter menjadi 6.800 per liter dan Pertamax Rp 12.500 per liter menjadi 14.500 per liter.

Penumbuhan inflasi di kota Gorontalo dipicu oleh kenaikan indeks pada 6 kelompok pengeluaran, penurunan pada 2 kelompok pengeluaran, serta 3 kelompok pengeluaran tidak mengalami perubahan indeks.

Kepala BPS Provinsi Gorontalo Mukhamad Mukhanif mengatakan, Kelompok yang paling mendorong terjadinya inflasi di bulan September adalah kelompok transportasi sebesar 9,7 Persen dan bensin menjadi komoditi utama penyumbang inflasi. 

" Terlihat sekali bahwa inflasi periode September utamanya disumbangkan oleh kelompok transportasi yang inflasinya cukup tinggi kemudian bensin menjadi komoditi utama penyumbang inflasi di kota Gorontalo," ujar Mukhamad

Mukhamad mukhanif juga menambahkan
" Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks yaitu kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,49 persen, kelompok perumahan, air, listirik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,09 persen, kelompok transportasi sebesar 9,7 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,36 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar -2,13 persen dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar -0,19 persen, " jelas Mukhamad

Adapun kelompok komoditas yang mengalami deflasi tahun ini adalah tomat dengan nilai deflasi -0,2806 persen, bawang merah -0,1543 persen, dan beberapa komoditas yang lain.

Laju inflasi tahun kalender September 2022 sebesar 4,49 persen dan
inflasi “year on year” (September 2022 terhadap September 2021) sebesar 5,65 persen. (IP-03/IFA)


Share